Maybe we are at the bottom of the current position. But that doesn't mean we should be the same as the others because we can make difference. Make it a worthwhile difference so other people happy because our existence..

Selasa, 14 Januari 2014

Love Again (1)

Carrie tidak habis pikir, mengapa harinya begitu sial saat bertemu laki-laki itu? Ketua BEM yang menyebalkan, tukang pamer, terlalu membanggakan dirinya sendiri. Setidaknya itulah yang ada dibenak Carrie jika mendengar nama senior di kampusnya, Sena.

Namun bukan tanpa sebab Carrie menganggap Sena sebagai laki-laki yang menyebalkan, sebenarnya ini salahnya juga. Ia sungguh tidak tahu kalau laki-laki itu ternyata ketua BEM di kampusnya. Insiden saat upacara penerimaan mahasiswa baru membuatnya benar-benar ingin mengubur dirinya sendiri agar gadis itu tidak bertemu dengan sang ketua BEM. Hal itu sangat mempermalukan dirinya. Rasanya ia tidak ingin menampakkan dirinya untuk waktu yang lama di hadapan orang-orang yang ada di kampusnya untuk sementara waktu.

"Sebaiknya kau minta maaf padanya kalau kau tidak ingin hal ini terus berlanjut," ujar Meyra, sahabat Carrie sejak SMA.

"Itu tidak akan pernah terjadi, orang itu yang harus meminta maaf padaku bukan aku yang minta maaf padanya. Aku yang sudah dirugikan olehnya. Untuk apa dia mengumumkan peringkatku saat upacara pengangkatan mahasiswa berlangsung. Aku tahu aku memang bodoh saat ujian masuk universitas ini, tapi dia tidak perlu memberitahu dunia tentang hal itu."

"Kau terlalu berlebihan, aku hanya memberitahu seluruh mahasiswa di kampus bukan seluruh dunia. Dasar gadis aneh."

Carrie mengangkat kepalanya yang sedari tadi bersandar di atas meja saat mendengar suara yang tidak asing baginya, dan benar saja... laki-laki itu tengah berdiri di hadapannya dengan melipat kedua tangannya di depan dada. Tanpa menunggu lama, Sena menarik tangan Carrie, mengajak gadis itu mengikuti langkahnya tanpa mau mendengar sepatah kata pun protes yang keluar dari mulut Carrie.

"Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku sebelum aku berteriak!" Seru Carrie kesal sambil mencoba melepaskan diri dari cengkraman laki-laki yang menariknya itu.

"Kau boleh berteriak sesuka hatimu, aku tidak peduli. Aku hanya menuruti perintah dan harus segera kuselesaikan saat ini juga."

"Apa maumu, hah? Kenapa memperlakukanku seperti ini?"

Sena membawa Carrie menuju ruang perlengkapan BEM. Sena baru bisa melepaskan cengkramannya saat mereka sudah sampai di ruangan itu.

"Maaf, aku tidak bermaksud menyakitimu," ucap Sena terdengar bersalah.

"Tapi ini benar-benar sakit..."

"Aku hanya menjalankan tugasku, jika aku memintamu dengan baik-baik, kau pasti tidak mau mendengarkan aku."

"Tapi kau tidak perlu menarikku seperti ini!"

"Aku benar-benar minta maaf. Sekarang aku ingin menjelaskan padamu kenapa aku membawamu ke tempat ini. Aku diminta oleh pihak manajemen universitas ini untuk memasukkanmu ke dalam anggota BEM yaitu bagian perlengkapan, hal ini untuk membantu nilaimu yang kurang dalam ujian masuk dan juga agar mahasiswa lain tidak menganggap bahwa manajemen memasukkanmu hanya karena pengaruh keluargamu di universitas itu. Dikhawatirkan mahasiswa lain akan merasa tidak adil dengan posisimu di kampus ini."

"Hei, aku tidak pernah menggunakan koneksi keluargaku untuk masuk ke universitas ini. Selain itu walau dengan nilai yang pas-pasan, aku masih memenuhi kriteria kelulusan universitas ini, jadi untuk apa aku menuruti perkataanmu untuk menjadi anggota BEM?"

"Kalau kau menolak menjadi anggota BEM, maka kau harus mengulang ujian masuk untuk membuktikan bahwa kau memang tidak mengandalkan koneksi keluargamu. Mungkin saat ujian sebelumnya kau memang beruntung bisa lulus dan masuk menjadi salah satu mahasiswi di kampus ini, namun untuk yang selanjutnya apakah keberuntungan itu akan menghampirimu untuk hal yang sama?"

Carrie berpikir sejenak, benar juga. Awalnya mustahil ia bisa masuk universitas itu jika hanya dilihat dari nilainya saja. Memang suatu keberuntungan ia bisa mendapat nilai yang cukup dan lulus. Tapi ia juga tidak sudi jika harus berada di bawah perintah Sena. Laki-laki ini akan sangat menyusahkannya saat ia menjadi anggota BEM nanti.

"Hanya tiga bulan..."

"Apa?"

"Masamu menjadi anggota BEM hanya tiga bulan. Hanya sampai perayaan hari ulang tahun universitas saja. Kau tidak akan menjadi anggota BEM selama masamu menjadi mahasiswa disini, karena hanya orang-orang terpilih saja yang bisa menjadi anggota BEM sebenarnya."

"Baiklah, aku mengerti. Hanya tiga bulan saja, kan? Setelah itu aku akan terbebas darimu. Oke, aku setuju menjadi anggota BEM selama tiga bulan."

"Lebih tepatnya menjadi pembantuku selama tiga bulan."

"APA???!!!"

***

'Besok pagi jam 6, aku tunggu kau di ruangan ini.'

Kata-kata itu seakan terus membayangi pikiran Carrie. Dia tidak terbiasa berangkat ke kampus sepagi itu dan sekarang laki-laki itu menyuruhnya datang ke kampus di saat semua orang masih terlelap di balik selimutnya.

"Kau terlambat sepuluh menit" ujarnya saat melihat Carrie yang berdiri di hadapannya dengan penampilan yang kacau.

"Huh, aku kan hanya terlambat sepuluh menit."

"Hanya katamu? Aku bukan orang yang mentolerir keterlambatan semacam ini. Kau sudah membuang waktu sepuluh menitku yang berharga. Sekarang masuk ke dalam dan angkat semua kardus yang ada di dalam, setelah itu letakkan di depan ruangan. Aku harus memeriksa beberapa data dan mengurutkannya."

Dengan kesal Carrie melangkah ke dalam ruangan yang kemarin ia datangi bersama Sena. Bertumpuk-tumpuk kardus berjejer tidak beraturan di rak. Haruskah ia mengangkat semua ini satu per satu? Pasti akan sangat melelahkan.

"BRUK"

"Astaga! Berapa banyak lagi yang harus aku angkaaattt??" 

"Jangan mengeluh, lakukan saja tanpa banyak bicara."

Carrie benar-benar kesal dibuatnya. Ia memandang sekelilingnya. Kampus di pagi hari benar-benar sepi, tidak ada seorangpun kecuali dirinya dan Sena. Menyebalkan memang harus tinggal berdua dengan laki-laki itu, namun jika dilihat lagi, ternyata kampus di pagi hari terasa sangat sejuk. Angin berhembus tidak terlalu kencang menerpa wajah Carrie, membelai rambutnya perlahan. Tanpa sadar, ia menikmati suasana ini. Suasana pagi hari yang menyejukkan hati ini, walau harus terperangkap bersama laki-laki yang menurutnya paling menyebalkan di dunia.

Carrie menoleh, memandang sekilas ke arah Sena. Orang itu sedang sibuk memeriksa satu per satu data yang ada di dalam kardus yang tadi ia keluarkan dari ruang perlengkapan, ah tidak.. ruang itu lebih tepat disebut gudang penyimpanan. Jika ia perhatikan dengan seksama, benar-benar hanya ada mereka berdua di tempat itu. Jika ia tidak menjadi anggota BEM untuk sementara waktu dan tidak membantunya, apa ia akan mengerjakan semuanya sendirian?

"Apa tidak ada anggota lain yang membantunya?" Lirihnya.

Saat ia sedang memperhatikan Sena, tanpa disangka laki-laki itu menoleh ke arahnya. "Apa yang kau lakukan? Kenapa diam saja? Cepat kerjakan tugasmu! Semua data ini harus diserahkan nanti siang."

'Lalu, kenapa kau mau mengerjakannya sendiri?' Pikir Carrie.

Pagi ini berlalu dengan sangat cepat bagi Carrie. Setelah selesai membereskan gudang penyimpanan itu rasanya seluruh badannya remuk dan lelah sekali. Ia menjatuhkan tubuhnya bersandar pada pohon rindang di taman belakang kampus, memejamkan matanya sesaat berharap dengan begitu rasa lelahnya bisa berkurang.

Dingin menyentuh pipinya, ia membuka matanya dan menoleh ke sampingnya. Dengan santai Sena duduk di sampingnya sambil menyerahkan sekaleng minuman dingin pada Carrie.

"Kau sudah bekerja keras. Ini hadiah untukmu." Ucap Sena.

"Hal seperti ini kau bilang hadiah? Yang seperti ini saja sih aku bisa membelinya sendiri."

Sena tertawa miris, "Ya, aku tahu. Kau bisa membeli sebanyak apapun yang kau mau karena kau memiliki banyak uang tanpa harus berusaha."

"Apa maksudmu?"

"Tidak, lupakan saja."

"Bagaimana bisa aku melupakannya. Kau menghinaku? Apa karena aku anak orang kaya maka dari itu aku bisa mendapatkan apapun yang aku mau? Itu menggelikan. Tidak semua yang terlihat di film atau drama itu nyata. Sekarang muncul lagi alasan kenapa aku bisa membencimu. Selain menyebalkan, kau juga tidak menghargai orang lain."

Carrie beranjak dari tempatnya dan pergi meninggalkan Sena. Ia sangat kesal pada laki-laki itu. Bagaimana bisa Sena memandangnya sebagai anak manja yang bisa mendapatkan apapun yang ia mau hanya dengan meminta pada orang tuanya saja? Itu tidak masuk akal.

***

Senin, 13 Januari 2014

Missing Into The Raindrops

Previous story:
Behind The Sunsets

***

"Bukankah rasa penasaran itu jika tidak dibuktikan akan membuat kepikiran? Sekarang aku penasaran, kira-kira bagaimana rasa darahmu ya?"

Laki-laki itu berjalan mendekat menghapus jarak antara dirinya dengan gadis di hadapannya. Tubuh gadis itu bergetar hebat, sepertinya dia sangat ketakutan. Tentu saja, siapa yang tidak takut saat mengetahui rahasia dirinya yang merupakan makhluk penghisap darah ini? Kebanyakan dari mereka yang terlanjur mengetahui rahasia dirinya, sudah pasti tidak akan pulang ke rumah dengan selamat.

Dia, penghisap darah itu, Aiden, tidak henti-hentinya memandangi wajah gadis di hadapannya itu. Dia benar-benar penasaran dengan rasa darah gadis itu, aromanya benar-benar membuatnya sulit berpikir jernih. Jika sudah begini, ia tidak akan bisa mengendalikan dirinya sendiri. Aiden menghirup dalam-dalam aroma tubuh gadis itu.

Ia memejamkan matanya, berkonsentrasi pada aroma gadis di dalam penjara tubuhnya itu. Gadis itu benar-benar ketakutan. Apa segitu menakutkannya kah dia?

Beberapa saat kemudian, tubuh gadis itu mendadak jadi sangat tenang, tidak gemetar seperti saat sebelumnya. Aiden semakin penasaran dibuatnya. Diurungkannya niat untuk menghisap darah gadis itu dan kini pandangannya beralih memperhatikan wajah gadis itu. Wajah ketakutan dan putus asa, sama seperti raut wajah gadis yang sebelumnya ia hisap darahnya. Namun raut wajahnya tidak hanya menunjukkan dua ekspresi itu  saja. Terlihat juga bahwa ia sangat lega seakan semua bebannya hilang dalam sekejap.

'Benar. Siapapun kau, makhluk apapun kau ini, hisap saja semua darahku, setelah itu bunuhlah aku. Dengan begitu aku tidak akan menderita lagi, dengan begitu aku tidak merasa tersakiti lebih lama lagi, dengan begitu orang-orang itu akan berhenti dengan sendirinya.'

Aiden mengerutkan dahinya, apa yang didengarnya tadi merupakan hal yang sedang dipikirkan oleh gadis itu. Ia memiliki bakat membaca pikiran manusia, namun ia tidak pernah membaca pikiran mangsanya karena apa yang ada di dalam pikiran mangsanya adalah hanya permohonan untuk hidup lebih lama dan jika mereka hidup, mereka berjanji akan memperbaiki hidup buruk mereka di masa lalu, sayangnya Aiden tidak pernah melepaskan mangsanya begitu saja. Dia tidak pernah melepaskan hewan buruan yang sudah susah payah di dapatnya.

Namun gadis di hadapannya ini malah memilih untuk mati dan sedikitpun tidak memohon untuk hidup? Apa gadis ini sudah gila? Entahlah, yang pasti hal itu cukup untuk membuat seleranya menghilang menghisap darah gadis itu akan tetapi hasrat dalam dirinya untuk merasakan darah gadis itu tidaklah hilang sama sekali, dia hanya akan menundanya untuk sementara waktu.

Aiden tersenyum sambil menatap gadis yang sedang memejamkan matanya itu, "Sayang sekali ya..." katanya sekilas sebelum ia mengecup kening gadis itu seolah memberinya tanda bahwa gadis itu adalah miliknya dan dia akan datang lagi untuk menghisap darahnya.

Gadis itu membuka matanya dan Aiden sudah menghilang bagai debu yang tertiup angin.

***

Thya membuka matanya, makhluk itu menghilang meninggalkan dirinya dan gadis yang terbaring di tanah dengan bekas gigitan di lehernya. Thya segera menghampiri gadis itu, memeriksa keadaannya, mengecek nadinya yang ternyata masih berdenyut walaupun lemah. Gadis itu masih hidup. Dengan sigap ia meraih ponsel yang ia sembunyikan di bagian terdalam tasnya, hanya itu satu-satunya benda berharga yang masih tersisa di dalam tasnya selain uang yang diambil Raina dan ponselnya yang lain yang dijatuhkan ke dalam kolam oleh teman-temannya.

Tanpa menunggu lebih lama lagi, Thya segera menghubungi ambulans untuk menyelamatkan nyawa gadis itu. Setelah menghubungi ambulans, ia kembali berpikir, apa yang harus dikatakannya pada orang lain jika nanti gadis ini dibawa ke rumah sakit oleh ambulans? Orang lain pasti akan menanyai segala macam pertanyaan tidak masuk akal tentang gadis itu. Terlebih lagi, dirinyalah satu-satunya saksi yang ada di tempat kejadian. Atau lebih buruk lagi, orang lain bisa saja menjadikannya tersangka atas kejadian hari ini.

Thya melirik gadis itu sekilas, kemudian dengan berat hati, ia melangkah pergi keluar dari rumah tua itu meninggalkan gadis yang tergeletak tak berdaya di lantai.

"Maafkan aku..." lirihnya, namun tidak terlihat lagi terlalu banyak ekspresi di wajahnya. Ia hanya meninggalkannya begitu saja, berlari di bawah rintikan air hujan yang mulai membasahi tubuhnya.

~To be continue...

Sabtu, 04 Januari 2014

Behind The Sunsets

Thya berjalan dengan langkah gontai. Seragam sekolah yang ia kenakan terlihat sangat kotor, rambutnya berantakan, tubuhnya penuh dengan luka lebam, bahkan sudut bibirnya mengeluarkan darah. Penampilannya terlihat sangat mengenaskan.

Pagi ini teman-teman di sekolahnya menuduhnya merebut pacar Raina, gadis populer di sekolah. Tidak, mereka bukan teman-teman Thya. Mereka hanya orang-orang yang berada di satu kelas yang sama dengan Thya. Dari awal mereka memang selalu melakukan penyiksaan terhadap dirinya dan Rainalah yang selalu menjadi penyebab utama.

Bangku dan meja yang patah, tas yang penuh dengan coretan penghinaan, sampah yang selalu dilemparkan ke arahnya, sampai air yang membasahi tubuh dan seragamnya. Itu sudah menjadi hal-hal yang harus ditanggung oleh Thya saat ia berada di sekolah, di bullying tanpa ada habisnya.

Thya tahu dari awal gadis populer itu tidak menyukainya. Entah apa sebabnya yang pasti gadis itu terlihat sangat membencinya. seolah Raina tidak akan membiarkan Thya hidup dengan tenang. Ingin rasanya Thya keluar dari sekolah itu, tapi sepertinya mustahil.

Sekolah itu adalah sekolah terbaik di Kota. Jarang sekali ia bisa menerima beasiswa full dari sekolah seperti itu. Awalnya Thya ingin melaporkan kejadian yang menimpa dirinya kepada kepala sekolah, tapi Raina selalu mengancam akan membuat Thya jauh lebih tersiksa daripada yang sebelumnya jika ia sampai melaporkannya. Raina mengancam akan membuat Thya tidak bisa mengatakan sepatah katapun jika ia berani melakukannya.

Sudah cukup lama Thya berjalan baru sekarang ia merasakan lelahnya. Ia menghentikan langkahnya di depan sebuah rumah tua yang tidak terawat, mengatur napasnya sejenak sebelum kembali berjalan. Sebenarnya jarak dari sekolah ke rumah Thya tidak terlalu jauh jika menggunakan kendaraan umum, hanya saja Raina dan teman-temannya mengambil semua uangnya hingga tidak ada lagi yang tersisa. Dengan berjalan kaki ia harus memutar arah dan berjalan dua kali lipat dari jarak yang biasanya ia tempuh.

Tubuhnya sangat sakit, dadanya sesak, dan pandangannya mulai tidak jelas. Ia baru saja dihajar habis-habisan oleh orang-orang dan gadis angkuh yang memimpin mereka.

"Kyaaa!!!"

Thya membuka matanya lebar-lebar, menajamkan telinganya agar bisa mengira dari mana suara itu berasal. Ia menoleh ke arah rumah tua yang ia lewati, suara jeritan gadis itu berasal dari sana. Dengan sisa tenaga yang ia punya, ia melangkah masuk ke dalam rumah itu.

Hari yang sudah semakin gelap membuatnya sulit melihat jalan di dalam rumah itu tanpa penerangan. Samar-samar ia mendengar suara desahan menyakitkan dari gadis yang tadi berteriak. Gadis itu pasti dalam bahaya!

Thya mengintip dari balik pintu sebuah kamar yang ada di rumah itu. Walau ia sangat lelah, tapi ia masih bisa melihat dengan jelas apa yang sedang terjadi di balik pintu itu.

Di bawah terpaan sinar bulan, seorang laki-laki berpakaian serba hitam menancapkan taringnya menembus kulit leher jenjang milik sang gadis. Darah segar menetes dari leher gadis saat laki-laki itu terlarut dalam kegiatannya.

Thya membalikkan tubuhnya, jantungnya berdetak sangat cepat, keringat mulai membasahi tubuhnya. Benarkah apa yang dilihatnya ini? Thya kembali memposisikan tubuhnya untuk melihat keadaan gadis itu, juga untuk meyakinkan dirinya sendiri dengan apa yang baru saja terjadi di hadapannya. Gadis itu tergeletak di lantai, tapi ia tidak melihat laki-laki itu di dekatnya. Kemana dia pergi?

"Mencariku?"

Thya membalikkan tubuhnya. Laki-laki itu berdiri di hadapannya sekarang dengan seringaian yang menyeramkan. Ia semakin sulit bernapas ketika laki-laki itu melangkah mendekatinya, mempersempit jarak di antara mereka. Jantungnya berdetak semakin cepat, tubuhnya terasa semakin lemas, kepalanya pusing, dan pandangannya semakin terlihat samar-samar.

"Bukankah rasa penasaran itu jika tidak dibuktikan akan membuat kepikiran? Sekarang aku penasaran, kira-kira bagaimana rasa darahmu ya?"

~To be continue...

Kamis, 20 September 2012

You are my love song

Dingin, langit malam terselimuti awan tidak memperkenankan bintang menyampaikan cahayanya ke bumi yang dingin, tapi kau tetap berdiri di sana. Di tengah kegelapan, menghibur anak-anak dengan pakaian terbaik mereka. Lusuh, kotor, bahkan jahitan-jahitan tak beraturan senantiasa menghiasi pakaian mereka. Hanya itu yang terbaik yang bisa mereka kenakan.

Kau dengan senyuman tulus memandang anak-anak itu, menyanyikan lagu-lagu untuk mereka dengan gitar yang selalu kau bawa di punggungmu kemana pun kau pergi.

Aku ingin sekali berada di antara anak-anak itu, menyaksikan pertunjukanmu secara langsung, mendengar suaramu yang merdu. Namun, aq hanya bisa melihatmu dari balik jendela bening dan jeruji besi yang tak bisa kulalui.

Lalu, kau melihatku.

Melihatku yang sedang memperhatikanmu bersama anak-anak itu dari balik jendela.

Kau menghampiriku, namun orang-orang itu menahanmu agar tidak mendekat. Aku berpaling, tak kuasa melihat dirimu. Terlalu lemah untuk mengubah kenyataan bahwa aku tidak akan bisa melihat dunia dan selamanya akan terkurung di tempat ini walau sesungguhnya tempat ini adalah tempat terbaik untukku.

"Nona tidak boleh bertemu siapapun sampai dia sembuh," ujar orang-orang itu.

Aku berbalik melihatmu lagi dan hanya bisa merasa kecewa saat kau berbalik pergi menjauh dariku.

Kupejamkan mataku, hilang sudah kesempatanku untuk melihat indahnya dunia lewat dirimu.

Namun kegaduhan terjadi. Kau berlari sekuat tenaga dan berhasil melewati orang-orang itu. Kemudian kau melompat melewati batas yang selama ini tidak pernah sanggup kulalui. Kau menemukanku di balik jendela ini.