Maybe we are at the bottom of the current position. But that doesn't mean we should be the same as the others because we can make difference. Make it a worthwhile difference so other people happy because our existence..

Sabtu, 04 Januari 2014

Behind The Sunsets

Thya berjalan dengan langkah gontai. Seragam sekolah yang ia kenakan terlihat sangat kotor, rambutnya berantakan, tubuhnya penuh dengan luka lebam, bahkan sudut bibirnya mengeluarkan darah. Penampilannya terlihat sangat mengenaskan.

Pagi ini teman-teman di sekolahnya menuduhnya merebut pacar Raina, gadis populer di sekolah. Tidak, mereka bukan teman-teman Thya. Mereka hanya orang-orang yang berada di satu kelas yang sama dengan Thya. Dari awal mereka memang selalu melakukan penyiksaan terhadap dirinya dan Rainalah yang selalu menjadi penyebab utama.

Bangku dan meja yang patah, tas yang penuh dengan coretan penghinaan, sampah yang selalu dilemparkan ke arahnya, sampai air yang membasahi tubuh dan seragamnya. Itu sudah menjadi hal-hal yang harus ditanggung oleh Thya saat ia berada di sekolah, di bullying tanpa ada habisnya.

Thya tahu dari awal gadis populer itu tidak menyukainya. Entah apa sebabnya yang pasti gadis itu terlihat sangat membencinya. seolah Raina tidak akan membiarkan Thya hidup dengan tenang. Ingin rasanya Thya keluar dari sekolah itu, tapi sepertinya mustahil.

Sekolah itu adalah sekolah terbaik di Kota. Jarang sekali ia bisa menerima beasiswa full dari sekolah seperti itu. Awalnya Thya ingin melaporkan kejadian yang menimpa dirinya kepada kepala sekolah, tapi Raina selalu mengancam akan membuat Thya jauh lebih tersiksa daripada yang sebelumnya jika ia sampai melaporkannya. Raina mengancam akan membuat Thya tidak bisa mengatakan sepatah katapun jika ia berani melakukannya.

Sudah cukup lama Thya berjalan baru sekarang ia merasakan lelahnya. Ia menghentikan langkahnya di depan sebuah rumah tua yang tidak terawat, mengatur napasnya sejenak sebelum kembali berjalan. Sebenarnya jarak dari sekolah ke rumah Thya tidak terlalu jauh jika menggunakan kendaraan umum, hanya saja Raina dan teman-temannya mengambil semua uangnya hingga tidak ada lagi yang tersisa. Dengan berjalan kaki ia harus memutar arah dan berjalan dua kali lipat dari jarak yang biasanya ia tempuh.

Tubuhnya sangat sakit, dadanya sesak, dan pandangannya mulai tidak jelas. Ia baru saja dihajar habis-habisan oleh orang-orang dan gadis angkuh yang memimpin mereka.

"Kyaaa!!!"

Thya membuka matanya lebar-lebar, menajamkan telinganya agar bisa mengira dari mana suara itu berasal. Ia menoleh ke arah rumah tua yang ia lewati, suara jeritan gadis itu berasal dari sana. Dengan sisa tenaga yang ia punya, ia melangkah masuk ke dalam rumah itu.

Hari yang sudah semakin gelap membuatnya sulit melihat jalan di dalam rumah itu tanpa penerangan. Samar-samar ia mendengar suara desahan menyakitkan dari gadis yang tadi berteriak. Gadis itu pasti dalam bahaya!

Thya mengintip dari balik pintu sebuah kamar yang ada di rumah itu. Walau ia sangat lelah, tapi ia masih bisa melihat dengan jelas apa yang sedang terjadi di balik pintu itu.

Di bawah terpaan sinar bulan, seorang laki-laki berpakaian serba hitam menancapkan taringnya menembus kulit leher jenjang milik sang gadis. Darah segar menetes dari leher gadis saat laki-laki itu terlarut dalam kegiatannya.

Thya membalikkan tubuhnya, jantungnya berdetak sangat cepat, keringat mulai membasahi tubuhnya. Benarkah apa yang dilihatnya ini? Thya kembali memposisikan tubuhnya untuk melihat keadaan gadis itu, juga untuk meyakinkan dirinya sendiri dengan apa yang baru saja terjadi di hadapannya. Gadis itu tergeletak di lantai, tapi ia tidak melihat laki-laki itu di dekatnya. Kemana dia pergi?

"Mencariku?"

Thya membalikkan tubuhnya. Laki-laki itu berdiri di hadapannya sekarang dengan seringaian yang menyeramkan. Ia semakin sulit bernapas ketika laki-laki itu melangkah mendekatinya, mempersempit jarak di antara mereka. Jantungnya berdetak semakin cepat, tubuhnya terasa semakin lemas, kepalanya pusing, dan pandangannya semakin terlihat samar-samar.

"Bukankah rasa penasaran itu jika tidak dibuktikan akan membuat kepikiran? Sekarang aku penasaran, kira-kira bagaimana rasa darahmu ya?"

~To be continue...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar