Maybe we are at the bottom of the current position. But that doesn't mean we should be the same as the others because we can make difference. Make it a worthwhile difference so other people happy because our existence..

Senin, 13 Januari 2014

Missing Into The Raindrops

Previous story:
Behind The Sunsets

***

"Bukankah rasa penasaran itu jika tidak dibuktikan akan membuat kepikiran? Sekarang aku penasaran, kira-kira bagaimana rasa darahmu ya?"

Laki-laki itu berjalan mendekat menghapus jarak antara dirinya dengan gadis di hadapannya. Tubuh gadis itu bergetar hebat, sepertinya dia sangat ketakutan. Tentu saja, siapa yang tidak takut saat mengetahui rahasia dirinya yang merupakan makhluk penghisap darah ini? Kebanyakan dari mereka yang terlanjur mengetahui rahasia dirinya, sudah pasti tidak akan pulang ke rumah dengan selamat.

Dia, penghisap darah itu, Aiden, tidak henti-hentinya memandangi wajah gadis di hadapannya itu. Dia benar-benar penasaran dengan rasa darah gadis itu, aromanya benar-benar membuatnya sulit berpikir jernih. Jika sudah begini, ia tidak akan bisa mengendalikan dirinya sendiri. Aiden menghirup dalam-dalam aroma tubuh gadis itu.

Ia memejamkan matanya, berkonsentrasi pada aroma gadis di dalam penjara tubuhnya itu. Gadis itu benar-benar ketakutan. Apa segitu menakutkannya kah dia?

Beberapa saat kemudian, tubuh gadis itu mendadak jadi sangat tenang, tidak gemetar seperti saat sebelumnya. Aiden semakin penasaran dibuatnya. Diurungkannya niat untuk menghisap darah gadis itu dan kini pandangannya beralih memperhatikan wajah gadis itu. Wajah ketakutan dan putus asa, sama seperti raut wajah gadis yang sebelumnya ia hisap darahnya. Namun raut wajahnya tidak hanya menunjukkan dua ekspresi itu  saja. Terlihat juga bahwa ia sangat lega seakan semua bebannya hilang dalam sekejap.

'Benar. Siapapun kau, makhluk apapun kau ini, hisap saja semua darahku, setelah itu bunuhlah aku. Dengan begitu aku tidak akan menderita lagi, dengan begitu aku tidak merasa tersakiti lebih lama lagi, dengan begitu orang-orang itu akan berhenti dengan sendirinya.'

Aiden mengerutkan dahinya, apa yang didengarnya tadi merupakan hal yang sedang dipikirkan oleh gadis itu. Ia memiliki bakat membaca pikiran manusia, namun ia tidak pernah membaca pikiran mangsanya karena apa yang ada di dalam pikiran mangsanya adalah hanya permohonan untuk hidup lebih lama dan jika mereka hidup, mereka berjanji akan memperbaiki hidup buruk mereka di masa lalu, sayangnya Aiden tidak pernah melepaskan mangsanya begitu saja. Dia tidak pernah melepaskan hewan buruan yang sudah susah payah di dapatnya.

Namun gadis di hadapannya ini malah memilih untuk mati dan sedikitpun tidak memohon untuk hidup? Apa gadis ini sudah gila? Entahlah, yang pasti hal itu cukup untuk membuat seleranya menghilang menghisap darah gadis itu akan tetapi hasrat dalam dirinya untuk merasakan darah gadis itu tidaklah hilang sama sekali, dia hanya akan menundanya untuk sementara waktu.

Aiden tersenyum sambil menatap gadis yang sedang memejamkan matanya itu, "Sayang sekali ya..." katanya sekilas sebelum ia mengecup kening gadis itu seolah memberinya tanda bahwa gadis itu adalah miliknya dan dia akan datang lagi untuk menghisap darahnya.

Gadis itu membuka matanya dan Aiden sudah menghilang bagai debu yang tertiup angin.

***

Thya membuka matanya, makhluk itu menghilang meninggalkan dirinya dan gadis yang terbaring di tanah dengan bekas gigitan di lehernya. Thya segera menghampiri gadis itu, memeriksa keadaannya, mengecek nadinya yang ternyata masih berdenyut walaupun lemah. Gadis itu masih hidup. Dengan sigap ia meraih ponsel yang ia sembunyikan di bagian terdalam tasnya, hanya itu satu-satunya benda berharga yang masih tersisa di dalam tasnya selain uang yang diambil Raina dan ponselnya yang lain yang dijatuhkan ke dalam kolam oleh teman-temannya.

Tanpa menunggu lebih lama lagi, Thya segera menghubungi ambulans untuk menyelamatkan nyawa gadis itu. Setelah menghubungi ambulans, ia kembali berpikir, apa yang harus dikatakannya pada orang lain jika nanti gadis ini dibawa ke rumah sakit oleh ambulans? Orang lain pasti akan menanyai segala macam pertanyaan tidak masuk akal tentang gadis itu. Terlebih lagi, dirinyalah satu-satunya saksi yang ada di tempat kejadian. Atau lebih buruk lagi, orang lain bisa saja menjadikannya tersangka atas kejadian hari ini.

Thya melirik gadis itu sekilas, kemudian dengan berat hati, ia melangkah pergi keluar dari rumah tua itu meninggalkan gadis yang tergeletak tak berdaya di lantai.

"Maafkan aku..." lirihnya, namun tidak terlihat lagi terlalu banyak ekspresi di wajahnya. Ia hanya meninggalkannya begitu saja, berlari di bawah rintikan air hujan yang mulai membasahi tubuhnya.

~To be continue...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar