Maybe we are at the bottom of the current position. But that doesn't mean we should be the same as the others because we can make difference. Make it a worthwhile difference so other people happy because our existence..

Minggu, 27 April 2014

When I Saw You At That Time (2)

Previous Story:: Prolog


Bab 1 : First Sight


Gadis itu memasuki apartemennya  dengan langkah yang terburu-buru. Napasnya terengah-engah dan jantungnya berdetak sangat cepat hingga sulit untuk menstabilkannya kembali. Dia menutup pintu kamarnya dengan keras, menguncinya agar tidak ada seorang pun yang bisa masuk kekamarnya.

Setelah masuk ke dalam kamarnya, gadis itu masih enggan beranjak dari balik pintunya. Kejadian itu membuatnya sangat terkejut dan tidak bisa berpikiran jernih. Dia mulai mengatur napasnya hingga mulai kembali normal, memejamkan matanya untuk menenangkan pikirannya, mengatur detak jantungnya yang masih tidak karuan, kemudian dia menghembuskan napasnya.

“Tenang Kaoru, ini pasti tidak seperti yang kau pikirkan.” Katanya sendiri meyakinkan hatinya.

Kaoru membaringkan tubuhnya di ranjangnya yang nyaman, dalam hati ia menyesal, mengapa tadi ia menolak ajakan sahabat satu apartemennya itu untuk pergi ke pesta yang diadakan manajer mereka, tapi mau bagaimana lagi, ia benar-benar lupa dengan acara itu. Besok pagi ia yakin, manajernya, Leo akan datang ke apartemennya dan menanyakan ketidakhadirannya di pesta tersebut.

Kaoru menahan napasnya, ia masih tidak yakin dengan apa yang dilakukan laki-laki itu, apakah dia benar orang yang ditunggunya selama ini? Tapi mengapa sifatnya sangat berbeda saat bertemu dengan Kaoru sebelumnya? Oh ayolah, ia tidak bodoh. Ia yakin laki-laki itu tidak terlalu mengingat kejadian beberapa minggu lalu di Coffe Shop itu. Namun yang membuatnya tidak habis pikir adalah kata-kata lelaki itu pada dirinya sewaktu mereka bertemu tadi. Sangat berbeda dengan ekspresi sebelumnya saat menghadapi gadis yang menamparnya itu. Laki-laki itu seakan terlihat senang saat melihat kehadiran Kaoru di sana. Ia tersenyum dan berjalan menghampirinya. Kemudian dengan satu gerakan cepat menarik tangan Kaoru dan mengatakan sesuatu di telinganya yang membuat gadis itu tidak bisa berhenti memikirkannya.

Tanpa berpikir panjang, ia segera menepis lengan lelaki itu dan berlari tanpa menoleh ke arahnya lagi. Pikirannya benar-benar kacau, laki-laki itu dalam sekejap menjadi orang yang paling dihindari oleh Kaoru. Walaupun ia pernah menunggu beberapa jam hanya untuk bertemu dengannya, namun kali ini ia tidak ingin bertemu dengan laki-laki itu lagi.

Gadis itu menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya, ia masih belum bisa berpikir jernih hingga saat ini. Diliriknya jam yang menggantung di atas meja belajarnya, sudah hampir tengah malam tapi sahabatnya, Aozora belum kembali ke apartemen.

Ia memeriksa saku mantelnya, mencari ponsel yang ia simpan disana, tapi ponsel itu tidak ada disana. Padahal ia yakin sekali telah menyimpannya dengan baik di dalam sakunya saat perjalanan pulang tadi, tapi kenapa tiba-tiba menghilang?

“Jangan-jangan terjatuh saat aku berlari tadi? Ah~ kenapa begini?!” Ujarnya kesal.

^^

Laki-laki itu menatap ponsel putih yang ada di genggamannya.

“Ah~ aku ketahuan.” Ucapnya sambil tersenyum memandangi ponsel itu, kemudian ia menyimpan ponsel itu di sakunya dan berjalan meninggalkan Coffee Shop tempatnya sering menghabiskan waktu di waktu luangnya.

Ponsel yang ia letakkan di sakunya itu berdering, ada satu pesan masuk. Ia segera membacanya.

“Kaoru, hari ini aku menginap di apartemen kak Leo, kau jangan tunggu aku dan tidur duluan saja ya! Good night!” Pesan itu dikirim oleh seseorang bernama Aozora.

Laki-laki itu tersenyum senang, ia kembali meletakkan ponsel itu di sakunya.

“Jadi namanya Kaoru. Nama yang cantik.”

^^

Tok, tok...

Kaoru tersadar dari tidurnya, seorang mengetuk pintunya dengan cukup keras hingga hampir membuatnya sakit kepala. Dengan keadaan yang masih setengah sadar, ia melangkah dan membukakan pintunya.

“Astaga! Ini masih jam enam pagi! Siapa yang bertamu pagi-pagi begin...ni...?” Matanya membulat penuh saat mengetahui siapa yang berdiri di depan pintu kamarnya dengan senyum ramah di wajahnya.

Tubuhnya kembali menegang, otaknya kembali memutar kejadian semalam secara otomatis. Laki-laki itu, laki-laki yang semalam bertemu dengannya di jalan. Jantungnya berdetak dengan cepat, tapi ia tidak boleh kelihatan gugup di depan orang itu.

“A...Ada keperluan apa?” Tanyanya sambil mengalihkan pandangannya dari laki-laki itu.

Laki-laki itu masih terus tersenyum memandangi Kaoru, kemudian dia mengulurkan tangannya, memberikan ponsel putih yang selama beberapa jam terus berada di sakunya.

“Aku ingin mengembalikan ini. Ponsel ini milikmu kan? Pasti terjatuh karena kau tidak hati-hati. Tak kusangka ternyata kita bertetangga. Apartemenku juga berada di lantai ini.”

Lagi-lagi Kaoru membulatkan matanya. Kebetulan macam apa ini? Laki-laki ini tinggal di sebelah apartemennya! Astaga!! Dengan sedikit ragu, ia mengambil ponselnya dari tangan laki-laki itu. “Terima kasih,” ucapnya tidak ingin terlihat kasar.

“Namaku Keane, senang bertemu denganmu Kaoru.” Ucapnya kemudian pergi meninggalkan gadis yang masih berdiri di ambang pintu itu dengan tatapan tidak percaya.

“Darimana dia tahu namaku? Aku harus menghindar darinya, orang itu berbahaya” Lirihnya.

^^

Keane berjalan memasuki apartemennya dengan wajah yang berseri.

“Gadis yang menarik.” Gumamnya.

“Kenapa kau bicara sendiri, Key? Apa acara kemarin sukses?” tanya seorang laki-laki yang baru saja keluar dari kamar mandi.

“Acaranya berlangsung lancar. Besok aku akan ada latihan lagi di studio dengan beberapa pendatang baru.”

“Baguslah, besok aku akan berada di studio musik untuk merampungkan lagu baru kita. Oiya, bagaimana dengan tawaran konser bulan depan itu? Kau tidak keberatan kan jika aku menerimanya untuk grup kita?” Laki-laki itu, Sean, melangkah menuju meja makan dan menenggak orange juice yang sudah tersedia di atas meja.

“Tidak, aku tidak akan keberatan. Ambil saja tawaran itu, kurasa itu akan bagus untuk karir grup kita ke depannya.”

“Bagaimana dengan gadis menyusahkan itu? Kau sudah mengurusnya?” Tanya Sean lagi.

“Ya, aku sudah mengurusnya.” Jawab Keane sambil merebahkan dirinya di sofa dan menyalakan televisi.

“Oiya, apa kau kenal dengan tetangga kita?” Tanyanya lagi sambil mengutak atik remote tv mencari acara yang menarik.

“Kurasa ada dua orang gadis yang tinggal di sana, hanya itu yang kutahu. Mengapa tiba-tiba kau menanyakan hal itu?”

“Tidak, hanya penasaran.”

“Sejak kapan kau penasaran dengan tetangga kita itu? Aku pernah beberapa kali bertemu mereka, mereka mengenakan seragam High School. Mereka pasti anak orang kaya, kalau tidak, mereka tidak akan bisa tinggan di apartemen sebelah. Oiya, kau sudah siap untuk pertunjukkan kita minggu depan? Ray sudah mendapatkan bintang tamu untuk pertunjukkan itu. Katanya mereka pendatang baru di dunia hiburan dan menurutnya, penampilan mereka cukup bagus.”

“Iya, aku akan berlatih vocal lagi hari ini. Hari ini benar-benar membosankan.” Ujar Keane sambil mematikan tv di hadapannya dan berbaring di sofa putih itu. Pikirannya melayang membawanya ke hadapan gadis itu. Kejadian semalam. Dia benar-benar senang bertemu dengan gadis itu. Ada sesuatu yang pada diri gadis itu yang membuatnya tidak pernah bisa berhenti memikirkannya. Padahal baru dua kali ia bertemu secara  langsung dengannya, aneh sekali ia bisa menjadi seperti ini.

^^

When I Saw You At That Time

Prolog


Hilir mudik kendaraan berlalu begitu saja. Siluet-siluet hitam pun hanya meninggalkan jejak samar di jalanan beraspal, kemudian hilang tak berbekas. Seorang gadis menatap layar di depannya dengan seksama, sesekali ia menyesap sedikit demi sedikit kopi yang ia pesan. Tidak ada kegiatan khusus yang ia lakukan selain duduk di salah satu bangku Coffee Shop yang ia datangi sambil mengutak-atik laptop di hadapannya.

Gadis itu menyesuaikan letak kacamatanya, lalu ia menghela napas dan melirik jam tangannya. Tanpa terasa sudah hampir dua jam ia berada di Coffee Shop itu, hanya duduk dan mengamati laptopnya. Pandangannya beralih ke arah pintu masuk, tidak ada yang berubah. Sampai beberapa saat yang lalu, tidak ada yang melewati pintu itu. Semuanya tetap sama.

Sebenarnya bukan tanpa alasan ia duduk di sana selama hampir dua jam. Ia hanya sedang menunggu seseorang. Seseorang yang ia yakini akan datang ke tempat itu. Ia pernah bertemu orang itu sebelumnya, kejadiannya sudah berlalu cukup lama, tapi masih segar di ingatan gadis itu bagaimana senyuman orang yang dinantinya itu.

Kenyataannya, ia tidak tahu kapan orang itu akan datang. Menunggu tanpa kepastian seperti itu, anehnya ia tidak membenci hal itu.

Gadis itu melirik keluar jendela, ternyata hari sudah mulai gelap, matahari perlahan-lahan mulai terbenam. Sudah cukup baginya untuk menunggu di tempat itu, ia pun memutuskan untuk pulang dan lagi-lagi harus merelakan harapannya pupus untuk bertemu dengan orang itu hari ini.

Dengan membawa tas hitam berisi laptop kesayangannya. Ia melangkah keluar dari Coffee Shop itu. Langkahnya terhenti sesaat setelah ia keluar dari tempat itu. Ia memandang langit sejenak, awan kemerahan yang hampir memudar menandakan senja akan segera berlalu. Ternyata sudah selama itu ia menunggu. Dengan berakhirnya hari ini, berarti sudah seminggu ia harus mengubur harapan bisa bertemu dengan orang itu.

Pada akhirnya, gadis itu memutuskan untuk berjalan pulang ke apartemennya. Letaknya tidak jauh dari Coffee Shop itu, sehingga ia tidak perlu repot menaiki bus untuk tiba di apartemennya.

Jalan setapak yang ia lalui cukup sepi dan tidak banyak orang yang berlalu lalang melewatinya, namun gadis tidak khawatir sama sekali. Ia terus berjalan dengan tenang sambil memeriksa ponsel yang sedari tadi tidak disentuhnya.  Dua pesan masuk dan lima panggilan tidak terjawab dari teman satu apartemen sekaligus sahabat yang mengajaknya datang ke pesta yang diadakan oleh manajer mereka.

Lagi-lagi ia menghela napas. Ia bahkan lupa kalau manajernya mengadakan pesta . Apakah di pikirannya hanya ada orang itu sehingga ia bisa melupakan segalanya?

Gadis itu mengetik beberapa kata untuk membalas pesan yang diterimanya, kemudian memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku. Hanya tinggal beberapa blok lagi sampai ia tiba di apartemen.

“Mengapa kau tega melakukan hal ini padaku?!”

“Kau sudah tahu bagaimana akhirnya. Kau sudah tahu, aku tidak bisa bekerja sama dengan seorang perempuan, tapi kau tetap memaksa. Seharusnya dari awal kau tidak usah mendekatiku dan menjauh dariku.”

Gadis itu menghentikan langkahnya dan tanpa sadar malah bersembunyi di balik pohon. Seharusnya ia bisa mengabaikan saja dua orang yang sedang beradu argument itu dan berlalu begitu melewati mereka. Tapi kenapa begini? Mengapa ia malah bersembunyi?

“Bodoh! Untuk apa aku bersembunyi?” Rutuknya dengan suara pelan, khawatir kedua orang itu mendengar dan mengetahui keberadaannya.

Akhirnya ia memutuskan keluar dari tempat persembunyian dan melanjutkan perjalanannya, tetapi lagi-lagi langkahnya terhenti saat melihat gadis itu menampar wajah tampan laki-laki di depannya.

“Brengsek! Selama ini aku salah menilaimu! Ternyata apa yang semua orang bilang tentangmu itu benar. Kau itu memang bajingan!!” Seru gadis itu sambil berlalu begitu saja.

Laki-laki itu hanya terdiam di tempatnya sambil menghela napas. Sesaat kemudian, ia sadar bahwa seseorang sedang memperhatikannya. Ia pun menoleh ke arah orang yang sedang mengamatinya itu dan melihat seorang gadis sedang berdiri tidak jauh dari tempatnya.

Gadis itu tertegun melihat laki-laki yang berdiri menghadap ke arahnya. Orang itu memandangnya, namun bukan itu yang membuatnya sangat terkejut sampai tidak bisa menggerakkan kakinya. Melainkan karena laki-laki itu adalah orang yang selama ini ditunggunya.

 

-Prolog-End-

Rabu, 23 April 2014

My world (Bokutachi no unmei Novel)


Shiori’s side
Aku terdiam di tepi jalan raya itu. Siluet lalu lalang orang yang melintas di sekitarku seakan berlalu begitu saja. Aku mulai melangkahkan kakiku perlahan melewati keramaian itu. Raut wajah ceria dan bahagia terukir jelas di wajah mereka. Aku hanya bisa berjalan melewatinya, sampai akhirnya aku tiba di sebuah tempat yang tidak akan pernah bisa aku jangkau sesulit apapun aku berusaha.
Aku menatap kerumunan orang yang ada di dalam tempat itu dari jendela. Ah~andaikan saja aku tahu seperti apa rasanya. Gitar, piano, biola, semua alunan itu pasti akan terdengar sangat indah di telingaku.
Aku memejamkan mataku, membuka mulutku namun akhirnya mengatupkannya kembali.  Sunyi, sepi. Aku takut dengan kegelapan, aku takut sendirian, tanpa suara, tanpa cahaya. Tanpa ada seorangpun yang bisa memanggil namaku, tanpa ada seorangpun yang mengulurkan tangannya padaku. Bulir menyedihkan itu menetes membasahi pipiku, rasanya sangat dingin. Aku hanya bisa menangis tanpa suara.
‘Apa artinya aku hidup?’
Kubuka mataku perlahan, menghapus sisa-sisa bulir dingin itu dari pipiku. Masih sunyi,masih terasa dingin, masih membuat hatiku sesak.
Aku berbalik meninggalkan tempat itu, kembali berjalan menuju tempat dimana seharusnya aku berada. Tempat dimana aku bisa tersenyum dengan bangga. Tempat dimana warna-warni dunia menungguku.
“SRETTT…”
Goresan warna-warni itu terlihat indah di mataku. Tanpa sadar aku tidak bisa berhenti menorehkan kuas berwarna-warni itu di atas kanvas berwarna putih bersih  di hadapanku. Aku menatap langit dan awan yang berarak bebas di angkasa. Aku tersenyum.
Matahari, langit, daun-daun yang berguguran di tanah, semua itu terlihat indah di mataku. Merasuk ke dalam jiwaku, memenuhi relung hatiku yang terdalam. Berbagai warna memenuhi lukisanku Aku bahagia.
Namun tiba-tiba saja seseorang mengejutkanku, aku segera berdiri dari tempatku hingga tanpa sengaja menabrak kanvas di hadapanku hingga terjatuh. Laki-laki itu yang menyentuh pundakku, reaksinya terlihat sama terkejutnya denganku. Aku memandangnya dan menjaga jarak darinya.
Laki-laki itu mengerutkan keningnya, ia kemudian tersenyum ramah sambil menyerahkan kertas gambar yang ada di tangannya.
Kulihat kertas yang ada di tangannya dengan seksama. Perlahan kuulurkan tanganku untuk mengambil kertas itu dari tangannya. Aku tersenyum lega. Meski hanya selembar kertas gambar berwarna putih namun itu adalah hartaku yang paling berharga. Aku memeluknya di dadaku. Tidak ingin benda ini sampai hilang lagi dariku.
Laki-laki itu mengulurkan tangan kanannya. Aku memandangi tangan itu, kemudian menatap wajahnya. Ia masih menunjukkan senyum hangat itu di wajahnya.
‘Aku suka gambarmu.’
Itu yang dikatakannya. Dia menyukai gambarku. Aku menyambut uluran tangan itu dan menggenggamnya erat.
Oh, kenapa tidak terpikirkan olehku sejak awal!
Aku mengambil pensil dan menggambar sesuatu di atas kertas itu. Setelah selesai menggambar, aku memperlihatkannya pada laki-laki itu. Ia memicingkan matanya.
Gambar seorang gadis sedang tersenyum sambil membungkukkan badan. Itu gambar diriku yang mengucapkan terima kasih kepadanya.
Laki-laki itu menggerakkan bibirnya. Aku menatap laki-laki itu dan melihat ekspresi wajahnya.
‘Kamu berterima kasih kepadaku?’
Aku menganggukkan kepala sambil tersenyum kecil.
Laki-laki itu tertegun seperti baru menyadari sesuatu yang luput dari penglihatannya. Ternyata ia baru menyadari kalau aku tidak bisa mendengarnya dan tidak bisa membalas perkataannya.
Laki-laki itu menggerakkan bibirnya lagi. Aku mengamatinya dengan seksama.
‘Apa kamu tahu tentang musik?’
Aku tertegun. Mengingat aku yang tidak bisa mendengarkan alunan apapun membuatku lagi-lagi merasa sesak. Namun walau aku tidak bisa mendengarkan suara musik, masih banyak keindahan di dunia ini yang bisa aku nikmati dan aku tuangkan dalam lukisanku.
Aku tersenyum menjawab pertanyaannya, menggambar lagi di atas kertas itu. Memenuhi seisi kertas itu dengan gambar-gambar not balok yang tidak beraturan. Itu artinya aku sama sekali tidak tahu soal musik.
Laki-laki itu mengembangkan senyum yang sempat hilang dari wajahnya. Ia terlihat sangat yakin dengan keadaan diriku.
‘Jadi, inikah musik yang kamu kenal di duniamu?’
Aku mengangguk dengan penuh keyakinan. Walau tidak ada suara yang dapat kudengar, walau tidak ada kata yang dapat kuucapkan, namun aku bahagia dengan dunia penuh warna yang aku miliki.

Shota’s side
Sebuah kertas melayang dan jatuh di hadapanku, aku mengedarkan pandangan ke sekelilingku, mencari tahu darimana kertas itu berasal. Seorang gadis dengan tenang melukis di tepi kolam air mancur di tengah taman itu. Aku memandangi gadis itu dengan seksama. Cantik.
Aku mengambil kertas yang ada di hadapanku itu, melihat nama yang tertera di suduk bawah kertas gambar itu. Shiori. Nama yang cantik sama seperti orangnya.
Aku melangkah mendekatinya,  berniat mengembalikan kertas itu padanya. Dia tidak menyadari kehadiranku karena terlalu menghayati apa yang sedang ia kerjakan. Berbagai warna memenuhi lukisannya, seperti menunjukkan perasaan hati  yang begitu gembira.
“Shiori!” Aku memanggil nama gadis itu. Namun, ia tidak menoleh dan tetap sibuk dengan kegiatannya.
“Shiori! Shiori!” Sekali lagi aku memanggilnya. Lagi-lagi tak ada jawaban.
Akhirnya aku memberanikan diri menyentuh pundaknya, “Shiori,” aku memanggilnya lagi.
Ia langsung berdiri dan tanpa sengaja menabrak kanvas di depannya hingga terjatuh. Aku terkejut melihatnya, tidak menyangka reaksinya sama denganku. Ia langsung memandangku dengan penuh waspada dan segera menjaga jarak dariku.
Aku mengerutkan keningku. Tak berapa lama hal itu berlangsung, aku tersenyum ramah dan menyerahkan kertas gambar yang ada di tanganku.
“Ini milikmu, kan?”
Shiori terlihat berpikir sejenak. Wajahnya yang sempat ketakutan tiba-tiba saja berubah cerah. Perlahan-lahan, ia mengambil kertas gambar itu dari tanganku. Kemudian memeluknya di depan dada, seolah itu adalah harta yang paling berharga baginya.
“Namaku Shota, kamu Shiori, kan?” Aku mengulurkan tangan kananku. Mengajaknya untuk berjabat tangan.
Ia tidak langsung menyambut uluran tanganku dan hanya memandanginya selama beberapa detik.
“Aku suka gambarmu,” kataku lagi.
Kali ini akhirnya dia bereaksi. Ia menyambut uluran tanganku lalu menggenggamnya erat. Lantas, seperti teringat sesuatu, Shiori mengambil pensil dan menggambar sesuatu di atas kertas yang di pegangnya.
Apa yang sedang ia lakukan? Tanpa melontarkan pertanyaan itu, aku hanya bisa menunggunya. Kemudian beberapa saat kemudian, ia memperlihatkan gambarnya padaku.
“Eh?” Aku memicingkan mata. Di atas kertas itu, ada gambar seorang gadis sedang tersenyum sambil membungkukkan badan, seperti mengucapkan terima kasih atau rasa syukur.
“Kamu berterima kasih kepadaku?” Tanyaku meyakinkan.
Ia tidak langsung menjawab pertanyaanku, hanya memandangiku untuk beberapa detik.
Aku tertegun. Ada sesuatu yang luput dari penglihatanku. Shiori memang sedang melihatku, namun setelah diperhatikan lebih lama, arah pandangan itu ternyata sama sekali bukan tertuju pada bola mataku, tetapi justru mengarah ke bibirku.
Aku memutuskan untuk meyakinkan diriku lagi atas keadaan Shiori. Maafkan aku jika ini akan menyakitkan hatimu.
“Apa kamu tahu tentang musik?”
Beberapa detik gadis itu memperhatikan gerak bibirku dan setelah mengetahuinya, mendadak ekspresinya berubah menjadi datar. Kumohon maafkan aku, aku hanya ingin memastikan.
Setelah terlihat merenung beberapa saat, Shiori kembali menunjukkan senyum indahnya. Tangan gadis itu pelan-pelan mengambil kertas yang kupegang dan kembali memainkan pensilnya untuk menggambar.
Ia menunjukkan hasil gambarnya padaku. Aku benar-benar terkejut melihat hasil gambarnya kali ini. Shiori baru saja memenuhinya dengan gambar berbagai not balok yang benar-benar tidak beraturan.
“Hmm…” Aku tersenyum. Sudah tidak ada lagi keraguan yang tersisa dalam benakku. Shiori memang tidak sempurna seperti orang normal. Ia adalah tunarungu, dan biasanya seorang tunarungu juga mengalami kesulitan bicara yang sekaligus menyebabkannya menjadi tunawicara.
Kekurangannya itu tidak menjadikan gadis ini putus asa. Shiori telah melewati masa-masa kelamnya dan berhasil menjadi gadis cerdas serta kuat seperti yang ada di hadapanku saat ini.
“Jadi, inikah musik yang kamu kenal diduniamu?”Tanyaku tanpa pernah melepaskan senyum di wajahku.
Ia menatapku dengan penuh keyakinan dan kelembutan, kemudian tanpa sedikitpun keraguan, ia mengangguk mantap.
Aku bisa merasakan kebahagiaannya. Hanya dengan menorehkan tinta di atas kanvas, Shiori bisa bangkit. Mengumumkan bahwa inilah dunia yang telah ia ciptakan dengan kekuatannya. Dunia miliknya sendiri.

Lirik Lagu My World dalam Novel Bokutachi No Unmei
Apakah yang terpenting bagimu?
Setiap orang pasti memiliki hal-hal yang mereka sukai di dunia ini
Lalu, bagaimana dengan aku?
Bagiku… ke mana pun aku berjalan
Dunia hanyalah sebuah kehampaan dan kesunyian
Saat kututup mata, aku bertanya “Apa artinya aku hidup?”
Sayangnya, tidak ada yang bisa memberikanku jawaban
Ya, tidak ada yang bisa, kecuali diriku sendiri
Akhirnya kucoba untuk membuka mata, mencari arti hidupku
Kemudian tiba saatnya
Ketika aku bisa tersenyum dengan bangga
Menemukan duniaku
Dunia yang kusukai
Dunia penuh warna

Selasa, 04 Maret 2014

Opera

Previous Story:
Missing Into Raindrops

***

"Bukankah rasa penasaran itu jika tidak dibuktikan akan membuat kepikiran? Sekarang aku penasaran, kira-kira bagaimana rasa darahmu ya?"

Thya membuka matanya. Ucapan yang keluar dari mulut laki-laki itu terus terngiang di telinganya, memenuhi kepalanya, bahkan sampai terbawa ke dalam mimpinya. Thya melirik ke arah meja yang ada di sisi tempat tidurnya, memandangi jam yang berada di atas meja tersebut.

"Jam empat pagi," lirihnya.

Ia memandang sekelilingnya, mengamati ruangan tempat ia terbangun dari mimpi yang mengganggu tidurnya. Tempat tidur dengan ukuran queen size dilapisi seprai putih dimana ia sedang berbaring berada di tengah ruangan yang bisa dibilang sangat besar untuk ditempati oleh satu orang. Di sudut ruangan, rak-rak buku berisi berbagai jenis buku berjajar rapi menghadap tempat tidurnya.

Di bawah remangnya cahaya bulan, meja belajarnya tertata rapi menghadap ke jendela yang ternyata belum sempat ia tutup. Ah~ bahkan jendelanya pun lupa ia kunci. Selelah itukah dirinya sampai tidak menyadari hal kecil di sekitarnya?

Thya beranjak dari tempat tidurnya, berjalan menyusuri kamarnya, menutup jendela kemudian melangkah lagi hingga tiba di pintu kamarnya. Ia keluar dari kamar itu dan berjalan ke arah dapur.

Dapur yang Thya tuju bernuansa serba cokelat dihiasi lampu-lampu berwarna putih dan jingga. Tidak terlalu istimewa, tapi Thya menyukai tempat itu. Ia mengambil segelas air dan kembali ke kamarnya. Pelayan-pelayan yang ada di rumahnya pasti sedang terlelap, Thya melangkah dengan hati-hati agar tidak menimbulkan banyak suara berisik dan membangunkan mereka.

Hujan mulai turun membasahi bumi, petir pun mulai bergemuruh di langit, bahkan sesekali kilat menyambar bagaikan kilauan lampu kamera yang biasa ia gunakan untuk mengabadikan kenangan-kenangan berharga dalam hidupnya.

Thya terdiam, kenangan berharga? Ia tersenyum miris. Semua kenangan yang ia miliki semakin memudar seiring dengan berjalannya waktu. Banyak hal yang tidak ingin ia ingat lagi. Entah itu kenangan sedih ataupun kenangan bahagia.

"Bodoh, tidak seharusnya aku mengingat hal itu," gumamnya.

Ia berjalan kembali ke kamarnya, membuka pintunya perlahan. Tatapannya langsung tertuju pada jendela dan tirai yang melambai terhembus angin ke arahnya. Bukankah tadi jendelanya sudah ia tutup?

Pandangannya beralih menuju tempat tidurnya. Kilat dan petir saling kejar-kejaran menyambar bumi. Di bawah kilatan cahaya dan derasnya suara hujan di luar sana, Thya terpaku di tempatnya. Memandang seseorang yang kini tengah duduk di tempat tidur miliknya sambil memandang ke arahnya.

"Selamat malam, apakah aku mengganggu waktumu yang berharga?" Tanyanya yang tersenyum menampakkan taringnya yang tajam.

^^To be continue...

Selasa, 14 Januari 2014

Love Again (2)

Previous Story: http://kaochankaochan.blogspot.com/2014/01/love-again-part-1.html


"Kau berubah sampai aku lagi-lagi sulit mengenalmu. Itu bagus, melampaui apa yang aku harapkan darimu." Gumam Sena yang masih enggan beranjak dari bawah pohon rindang itu.

***

Keesokan harinya lagi-lagi Sena meminta Carrie untuk datang pagi dan mengerjakan tugas darinya. Dengan perasaan kesal yang masih belum hilang dalam diri Carrie, ia menghampiri Sena yang berada di ruang kerja BEM. Saat Carrie membuka pintu ruang itu, terlihat Sena yang sedang fokus di depan layar laptopnya mengetik beberapa berkas yang tertumpuk di atas meja kerjanya.

"Oh, kau sudah datang. Cepat masuk dan tutup pintunya. Di luar sangat dingin, mungkin efek karena semalam hujan turun."

Carrie menghela napas dan segera menutup pintunya sesuai dengan apa yang dikatakan Sena. Dia memandang sekeliling ruangan itu. Sebelumnya ia belum pernah masuk dan melihat ruangan itu karena hanya anggota BEM saja yang mendapat akses memasuki semua ruangan di kampus. Carrie melihat beberapa gelas kopi di atas meja, dua gelas sudah kosong sedangkan satunya lagi masih tersisa setengah.

"Wah, sepertinya kau tidak tidur semalaman. Kau habis berpesta ya dengan teman-temanmu sesama anggota BEM?" kata Carrie.

Sena menoleh, menyamakan arah pandang Carrie yang melihat ke arah bekas kopi di atas meja. Kemudian ia tertawa.

"Ah, aku ketahuan ya... Aku memang tidak tidur, dan sekarang aku sangat lelah. Gantikan aku mengetik berkas-berkas ini. Yang sudah kutandai saja, tidak perlu semua kau ketik. Aku ingin tidur sebentar saja."

"Cih, apa-apaan itu? Melimpahkan tugasmu pada orang yang tidak ada sangkut pautnya dengan organisasi yang kau pimpin."

"Hei, jangan membantah. Ingat, selama tiga bulan ini, tugasmu adalah menjadi pembantuku. Kau tidak mau mendapat surat pemberitahuan tentang ujianmu itu kan? Jadi jangan mengeluh, kerjakan sajalah..." Ujar Sena sambil merebahkan dirinya di sofa dan menutupi tubuhnya dengan selimut.

Carrie menghela napas untuk yang kesekian kalinya. Ia mulai sibuk membaca berkas yang ada di depannya sebelum mulai mengetik berkas itu. Tapi tunggu! Bagian yang ditandai oleh Sena hanya bagian yang penting saja. Padahal bagian itu begitu tertutup dengan bagian penjelasan yang tidak penting. Mustahil bisa mengetahuinya hanya dengan sekali lihat saja. Setidaknya harus dibaca dulu dengan seksama.

'Apa Sena membaca berkas sebanyak ini?' Pikir Carrie.

Masih dilanda rasa penasaran, gadis itu kemudian memeriksa hasil ketikan Sena dalam laptopnya. Dua puluh tiga halaman, sudah sebanyak itukah? Kemudian ia menoleh ke arah cangkir-cangkir kopi yang tergeletak di atas meja. 

'Jangan-jangan ia tidak tidur semalaman karena mengerjakan tugas ini?' Carrie memangdang ke arah Sena yang berada di sofa.

"Aku minta maaf..." Ujar Sena masih dengan mata tertutup, membuat Carrie terkejut bahwa Sena memergoki dirinya sedang memandang ke arah laki-laki itu.

"Perkataanku kemarin sungguh tidak sopan, aku minta maaf. Kau mau memaafkan aku?"

Carrie terdiam, entah mengapa melihat Sena yang seperti itu, jantungnya tidak berhenti berdebar. Carrie mengalihkan pandangannya dari Sena menuju laptop di hadapannya. Berpura-pura berkonsentrasi pada tugasnya.

"Sudahlah, tidak usah membicarakan hal itu. Lebih baik kau tidur. Kau pasti sangat lelah."

Sena tersenyum mendengar kata-kata Carrie. Tidak disangka gadis itu akan bersikap seperti itu pada dirinya. Bukankah biasanya Carrie hanya bisa marah jika sudah berhadapan dengannya? Sekarang gadis itu terlihat begitu berbeda.

***

Sudah sebulan lebih mereka berdua bekerja sama dan selama itu pula Sena melihat banyak perubahan dalam diri Carrie. Gadis itu tidak lagi seperti yang pernah ia temui sebelumnya, ia terlihat semakin dewasa sekarang. Carrie pun tidak lagi menganggap Sena menyebalkan. Banyak hal yang ia lihat dalam diri Sena yang ternyata tidak sesuai dengan apa yang ia pikirkan.

"Aahh... lelahnya." Seru Carrie sambil mengangkat kedua tangannya di udara. Mereka sedang membeli perlengkapan untuk persiapan ulang tahun universitas.

"Lebih baik kita beristirahat saja dulu. Aku juga lelah." Lanjut Sena.

Mereka pun duduk di bangku yang di sediakan di tempat mereka berbelanja. Tanpa ada satu pun yang memulai pembicaraan karena keduanya sedang asyik menikmati semilir angin musim semi yang menerpa wajah mereka.

Sena beranjak dari bangkunya kemudian melangkah meninggalkan Carrie yang masih duduk dengan manis di bangku itu. Carrie melihatnya menghampiri kedai ice cream yang tidak jauh dari tempatnya berada. Beberapa saat kemudian, Sena kembali dengan membawa dua cup ice cream di tangannya.

"Untukmu." Ujar Sena sambil menyerahkan satu cup ice cream kepada Carrie.

"Apa ini hadiah untukku karena aku sudah bekerja keras?" Canda Carrie.

"Yah, anggap saja seperti itu." Sena kembali merebahkan dirinya di samping Carrie. Mereka menikmati ice cream itu bersama-sama.

Carrie memperhatikan ice cream itu. Ia baru sadar saat menyuapkan ice cream itu ke mulutnya beberapa suapan. Kemudian, ia melirik ke arah Sena yang masih asyik menikmati ice creamnya. Gadis itu memperhatikan ice cream yang dimakan Sena dengan seksama.

"Bagaimana bisa?" Gumamnya kemudian.

Gerakan Sena terhenti dan menoleh ke arah gadis yang sedang memandangnya itu. "Ada apa?" Tanyanya bingung.

"Bagaimana bisa kau tahu rasa ice cream kesukaanku?" Tanya Carrie tanpa mengalihkan pandangannya dari Sena.

Sena terdiam, terlihat sedikit gugup saat Carrie terus menerus memandanginya seperti itu. "Apa maksudmu? Aku hanya membeli ice cream yang dibuatkan di kedai itu saja."

"Tidak mungkin. Kau tahu, ice cream kesukaanku itu spesial. Ice cream cokelat yang dipadukan dengan sedikit ice cream rasa stroberi, kemudian diberi taburan cokelat dan mochi di atasnya, namun biasanya aku juga meminta satu buah stroberi untuk diletakkan di atasnya. Kau memesannya persis seperti itu. Seperti apa yang aku sukai. Bagaimana kau tahu?"

Sena benar-benar tidak bisa bicara apa-apa. Dia benar-benar tidak bisa berkutik menghadapi Carrie. Dia sudah tidak bisa menutupinya lebih lama lagi.

"Terkadang aku merasa sangat dekat denganmu, kau terlihat sangat mudah dipahami bagiku. Namun terkadang aku merasa kau berada di tempat yang begitu jauh dariku sehingga aku tidak bisa menebak apa yang akan kau lakukan selanjutnya. Sebenarnya siapa kau sebenarnya?" Kata Carrie yang terlihat frustasi menghadapi Sena.

Sena menghela napas. Sudah saatnya dia memberitahu Carrie.

"Kau lihat ice cream yang aku pesan ini?" Tanya Sena.

Dari awal saat Sena memberikan ice cream itu padanya, Carrie memang sudah memperhatikan. Sena memesan ice cream vanilla, namun tanpa tambahan lain karena ice cream itu terlihat sangat putih dan manis. Sena tidak menambahkan topping apapun ke dalam ice creamnya.

"Apa kau tidak ingat?" Tanyanya lagi, kali ini tanpa melepaskan pandangannya dari Carrie.

Carrie mulai mengingat satu per satu kejadian saat ia bersama dengan Sena. Laki-laki itu selalu melindunginya, tidak membiarkannya terluka sedikitpun. Walau kadang tingkahnya menyebalkan, tapi Sena membimbing Carrie untuk menjadi orang yang bertanggung jawab. Kemudian ingatannya beralih pada seorang anak laki-laki yang dulu pernah menasihatinya untuk bertanggung jawab dengan apa yang diperbuatnya.

Waktu itu, Carrie sedang bermain-main di kantor ayahnya. Dia menggunakan laptop ayahnya untuk memainkan permainan, namun tanpa disengaja, Carrie membuka folder kerja ayahnya dan menghapus sebagian data yang ada di dalamnya. Melihat sebagian data perusahaannya yang menghilang, ayah Carrie marah besar dan menyalahkan sekretarisnya yang saat itu ditugaskan memeriksa data tersebut.

Carrie yang melihat ayahnya marah menjadi ketakutan dan merasa sangat bersalah, namun ia tidak berani mengakui perbuatannya karena takut ayahnya akan marah besar padanya. Ia berlari menuju taman dekat rumahnya dan menangis disana.

Pada saat itu, seorang anak laki-laki lewat dan melihat Carrie yang sedang menangis sendirian di taman. Ia menghampiri Carrie dan duduk di sampingnya. Hanya duduk tanpa melakukan apa-apa. Merasa ada seseorang yang sedang mengamatinya, Carrie mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah anak laki-laki itu.

"Kau tidak apa-apa?" Tanya anak laki-laki itu, namun bukannya berhenti menangis, Carrie malah semakin kencang menangis.

Anak laki-laki itu bingung harus melakukan apa. Pada akhirnya ia berjanji akan membelikan Carrie ice cream jika ia berhenti menangis dan menceritakan masalahnya pada anak laki-laki itu. Carrie pun menceritakan kesalahan yang ia perbuat. 

"Minta maaflah pada ayahmu, aku yakin ayahmu akan memaafkanmu. Mungkin dia akan marah, tapi aku yakin dia marah karena ayahmu sangat sayang padamu." Ujar laki-laki itu memberinya nasihat.

"Benarkah itu? Ayah tidak akan marah padaku?"

Anak laki-laki itu mengangguk pasti, kemudian beranjak dari tempatnya menuju kedai ice cream tidak jauh dari tempat mereka berada. Carrie mengikuti langkah anak laki-laki itu. 

"Aku mau ice cream vanilla satu dan berikan anak ini ice cream stroberi." Katanya sambil menunjuk ke arah Carrie.

"Kau tidak tahu apa kesukaanku, jadi jangan seenaknya memutuskan. Paman, aku mau ice cream cokelat ditambah dengan ice cream stroberi tapi sedikit saja. Aku juga minta cokelat dan mochi untuk ditaburkan di atasnya ya. Oiya, jangan lupa buah stroberi untuk hiasannya." Carrie tersenyum pada paman penjual ice cream setelah menyebutkan pesanannya.

***

"Kau tidak ingat?" Tanya Sena yang masih menunggu jawaban dari Carrie.

"Kau... kau anak laki-laki itu?"

Sena tersenyum senang, "Syukurlah kau masih ingat. Aku akan sangat sedih jika kau sampai melupakanku."

Carrie beranjak dari tempatnya, wajahnya terlihat kesal. Ia merasa seperti sedang ditipu oleh Sena. "Mengapa sejak awal kau tidak memberitahuku? Kau ingin mempermainkanku? Kau ingin melihat betapa bodohnya aku saat ini? Kau pikir ini lelucon, hah?"

"Bukan maksudku seperti itu, aku hanya ingin kau mengingatnya sendiri. Lagipula aku tidak punya hak untuk membuatmu mengingatku. Aku juga merasa tersiksa karena tidak bisa memberitahumu, membuatku hampir gila rasanya. Aku ingin bicara denganmu, tapi kau selalu menghindar dariku. Sampai kesempatan itu datang, akhirnya aku bisa bicara denganmu. Sekarang kau boleh marah padaku."

"Dasar bodoh. Mengapa waktu itu kau tidak datang lagi ke taman? Aku menunggumu seharian disana, benar-benar seperti orang bodoh." Ujar Carrie, terlihat air mata mulai menetes membasahi pipinya.

Sena beranjak dari tempatnya dan menghampiri Carrie. Ia mengangkat tangannya dan menghapus air mata yang jatuh di pipi gadis yang disukainya itu.

"Aku sungguh minta maaf. Aku tidak tahu kau akan menungguku disana. Aku berada di sana hanya kebetulan aku sedang menginap di rumah nenekku. Aku juga ingin bertemu denganmu, tapi hari itu adalah hari terakhirku berada di sana." Ungkap Sena.

"Aku tidak tahu dimana rumahmu, bahkan aku tidak tahu siapa namamu. Saat itu aku benar-benar bodoh tidak bertanya siapa namamu." Carrie semakin terisak dan menundukkan kepalanya.

"Saat itu aku juga bodoh, kenapa aku tidak menanyakan nama gadis yang membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama itu? Aku sungguh menyesal."

Carrie mengangkat kepalanya dan memandang wajah Sena.

"Ya, aku menyukaimu. Sejak dulu, dan sampai sekarang perasaan itu tidak berubah. Aku jatuh cinta pada gadis bodoh di hadapanku ini."

Carrie mendengus kesal dikatai bodoh oleh laki-laki di hadapannya itu.

"Kau tidak perlu mengataiku bodoh seperti itu." ucapnya kesal,

"Tapi aku juga bodoh, bisa jatuh cinta padamu."

Carrie tersenyum malu, ia semakin menundukkan kepalanya. Sena melangkah mempersempit jarak di antara mereka, tanpa ragu ia memeluk tubuh Carrie, menyalurkan semua rasa rindunya pada gadis itu.

***

"Bagaimana caranya kau bisa tahu kalau aku adalah gadis kecil yang dulu pernah kau nasihati itu?" Tanya Carrie penasaran sambil mengenggam erat tangan Sena saat mereka dalam perjalanan pulang.

"Aku melihat fotomu dan aku langsung teringat pada gadis kecil itu. Aku tidak pernah melupakan wajahnya." Jawab Sena.

"Benarkah? Lalu dimana kau melihat fotoku?"

"Di berkas penerimaan mahasiswa baru, juga dikamarku."

"Apa? Kau melihat fotoku di kamarmu? Bagaimana bisa? Apa jangan-jangan sebenarnya kau sudah tahu sejak lama kalau itu aku dan membuntutiku ya?"

"Untuk apa aku melakukan hal itu? Kau pikir aku tidak punya urusan yang lebih penting dari itu?"

"Lalu?"

(FLASHBACK)

Carrie kecil berjalan menghampiri ayahnya yang sedang duduk memandangi layar laptop dengan tatapan bingung. Dia mengatakan yang sebenarnya bahwa dialah yang tanpa sengaja menghapus data di dalam laptop ayahnya. Ayahnya terkejut dengan pengakuan Carrie, namun ia bangga pada putrinya yang berani mengakui kesalahannya. Walau begitu Carrie tetap mendapat hukuman dari ayahnya. Carrie harus rajin belajar dan mendapatkan nilai seratus saat tes matematika, pelajaran yang bagi Carrie merupakan pelajaran yang sangat sulit. Carrie menurut kemudian beranjak dari ruangan ayahnya.

Beberapa saat kemudian, seorang laki-laki yang seumuran dengan ayah Carrie memasuki ruangan itu dan menanyakan perihal masalah yang dialami sahabat baiknya itu. Ayah Carrie menceritakan masalahnya bahwa putrinya tidak sengaja menghapus data penting di laptopnya.

"Jadi itu masalahnya? Kalau seperti itu, mudah saja. Bukankah minggu lalu, kau mengirimkan data itu padaku? Aku masih menyimpannya dan jika kau mau, aku bisa mengirimkannya kembali padamu." ucap laki-laki itu.

"Benarkah? Terima kasih, aku akan sangat tertolong dengan bantuanmu. Sebagai gantinya, kudengar kau memili seorang anak laki-laki."

"Iya, umurnya hanya berbeda satu tahun dari putrimu."

"Bagaimana kalau sudah besar nanti, mereka kita jodohkan. Aku akan sangat senang bisa menerimamu sebagai besanku."

"Itu ide yang bagus, kurasa Sena kecilku juga akan sangat senang jika menikah dengan Carrie yang cantik saat mereka sudah besar nanti."

Kedua orang tua itu tertawa bersama dengan rencana perjodohan anak-anak mereka. 

Setelah kembali ke rumah, ayah Sena memperlihatkan foto Carrie kecil kepada Sena. Sena yang terkejut melihat foto itu dengan polosnya menceritaka kejadian antara dirinya dengan Carrie di taman. Ayahnya senang bahwa ternyata Sena sudah mengenal Carrie terlebih dahulu.

"Bagaimana kalau sudah besar nanti kau menikah dengannya?"

"Ayah serius? Ayah tidak bercanda kan? Tapi sepertinya dia tidak menyukaiku ayah, karena aku tidak tahu apa kesukaannya."

"Kalau begitu cari tahu. Dengan begitu, Carrie pasti akan menyukaimu."

Ya, Carrie akan menyukainya jika ia bisa tahu apa yang disukai Carrie. Dia pasti akan membuat Carrie menyukainya karena ia juga menyukai Carrie lebih dari apapun.

Love Again (1)

Carrie tidak habis pikir, mengapa harinya begitu sial saat bertemu laki-laki itu? Ketua BEM yang menyebalkan, tukang pamer, terlalu membanggakan dirinya sendiri. Setidaknya itulah yang ada dibenak Carrie jika mendengar nama senior di kampusnya, Sena.

Namun bukan tanpa sebab Carrie menganggap Sena sebagai laki-laki yang menyebalkan, sebenarnya ini salahnya juga. Ia sungguh tidak tahu kalau laki-laki itu ternyata ketua BEM di kampusnya. Insiden saat upacara penerimaan mahasiswa baru membuatnya benar-benar ingin mengubur dirinya sendiri agar gadis itu tidak bertemu dengan sang ketua BEM. Hal itu sangat mempermalukan dirinya. Rasanya ia tidak ingin menampakkan dirinya untuk waktu yang lama di hadapan orang-orang yang ada di kampusnya untuk sementara waktu.

"Sebaiknya kau minta maaf padanya kalau kau tidak ingin hal ini terus berlanjut," ujar Meyra, sahabat Carrie sejak SMA.

"Itu tidak akan pernah terjadi, orang itu yang harus meminta maaf padaku bukan aku yang minta maaf padanya. Aku yang sudah dirugikan olehnya. Untuk apa dia mengumumkan peringkatku saat upacara pengangkatan mahasiswa berlangsung. Aku tahu aku memang bodoh saat ujian masuk universitas ini, tapi dia tidak perlu memberitahu dunia tentang hal itu."

"Kau terlalu berlebihan, aku hanya memberitahu seluruh mahasiswa di kampus bukan seluruh dunia. Dasar gadis aneh."

Carrie mengangkat kepalanya yang sedari tadi bersandar di atas meja saat mendengar suara yang tidak asing baginya, dan benar saja... laki-laki itu tengah berdiri di hadapannya dengan melipat kedua tangannya di depan dada. Tanpa menunggu lama, Sena menarik tangan Carrie, mengajak gadis itu mengikuti langkahnya tanpa mau mendengar sepatah kata pun protes yang keluar dari mulut Carrie.

"Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku sebelum aku berteriak!" Seru Carrie kesal sambil mencoba melepaskan diri dari cengkraman laki-laki yang menariknya itu.

"Kau boleh berteriak sesuka hatimu, aku tidak peduli. Aku hanya menuruti perintah dan harus segera kuselesaikan saat ini juga."

"Apa maumu, hah? Kenapa memperlakukanku seperti ini?"

Sena membawa Carrie menuju ruang perlengkapan BEM. Sena baru bisa melepaskan cengkramannya saat mereka sudah sampai di ruangan itu.

"Maaf, aku tidak bermaksud menyakitimu," ucap Sena terdengar bersalah.

"Tapi ini benar-benar sakit..."

"Aku hanya menjalankan tugasku, jika aku memintamu dengan baik-baik, kau pasti tidak mau mendengarkan aku."

"Tapi kau tidak perlu menarikku seperti ini!"

"Aku benar-benar minta maaf. Sekarang aku ingin menjelaskan padamu kenapa aku membawamu ke tempat ini. Aku diminta oleh pihak manajemen universitas ini untuk memasukkanmu ke dalam anggota BEM yaitu bagian perlengkapan, hal ini untuk membantu nilaimu yang kurang dalam ujian masuk dan juga agar mahasiswa lain tidak menganggap bahwa manajemen memasukkanmu hanya karena pengaruh keluargamu di universitas itu. Dikhawatirkan mahasiswa lain akan merasa tidak adil dengan posisimu di kampus ini."

"Hei, aku tidak pernah menggunakan koneksi keluargaku untuk masuk ke universitas ini. Selain itu walau dengan nilai yang pas-pasan, aku masih memenuhi kriteria kelulusan universitas ini, jadi untuk apa aku menuruti perkataanmu untuk menjadi anggota BEM?"

"Kalau kau menolak menjadi anggota BEM, maka kau harus mengulang ujian masuk untuk membuktikan bahwa kau memang tidak mengandalkan koneksi keluargamu. Mungkin saat ujian sebelumnya kau memang beruntung bisa lulus dan masuk menjadi salah satu mahasiswi di kampus ini, namun untuk yang selanjutnya apakah keberuntungan itu akan menghampirimu untuk hal yang sama?"

Carrie berpikir sejenak, benar juga. Awalnya mustahil ia bisa masuk universitas itu jika hanya dilihat dari nilainya saja. Memang suatu keberuntungan ia bisa mendapat nilai yang cukup dan lulus. Tapi ia juga tidak sudi jika harus berada di bawah perintah Sena. Laki-laki ini akan sangat menyusahkannya saat ia menjadi anggota BEM nanti.

"Hanya tiga bulan..."

"Apa?"

"Masamu menjadi anggota BEM hanya tiga bulan. Hanya sampai perayaan hari ulang tahun universitas saja. Kau tidak akan menjadi anggota BEM selama masamu menjadi mahasiswa disini, karena hanya orang-orang terpilih saja yang bisa menjadi anggota BEM sebenarnya."

"Baiklah, aku mengerti. Hanya tiga bulan saja, kan? Setelah itu aku akan terbebas darimu. Oke, aku setuju menjadi anggota BEM selama tiga bulan."

"Lebih tepatnya menjadi pembantuku selama tiga bulan."

"APA???!!!"

***

'Besok pagi jam 6, aku tunggu kau di ruangan ini.'

Kata-kata itu seakan terus membayangi pikiran Carrie. Dia tidak terbiasa berangkat ke kampus sepagi itu dan sekarang laki-laki itu menyuruhnya datang ke kampus di saat semua orang masih terlelap di balik selimutnya.

"Kau terlambat sepuluh menit" ujarnya saat melihat Carrie yang berdiri di hadapannya dengan penampilan yang kacau.

"Huh, aku kan hanya terlambat sepuluh menit."

"Hanya katamu? Aku bukan orang yang mentolerir keterlambatan semacam ini. Kau sudah membuang waktu sepuluh menitku yang berharga. Sekarang masuk ke dalam dan angkat semua kardus yang ada di dalam, setelah itu letakkan di depan ruangan. Aku harus memeriksa beberapa data dan mengurutkannya."

Dengan kesal Carrie melangkah ke dalam ruangan yang kemarin ia datangi bersama Sena. Bertumpuk-tumpuk kardus berjejer tidak beraturan di rak. Haruskah ia mengangkat semua ini satu per satu? Pasti akan sangat melelahkan.

"BRUK"

"Astaga! Berapa banyak lagi yang harus aku angkaaattt??" 

"Jangan mengeluh, lakukan saja tanpa banyak bicara."

Carrie benar-benar kesal dibuatnya. Ia memandang sekelilingnya. Kampus di pagi hari benar-benar sepi, tidak ada seorangpun kecuali dirinya dan Sena. Menyebalkan memang harus tinggal berdua dengan laki-laki itu, namun jika dilihat lagi, ternyata kampus di pagi hari terasa sangat sejuk. Angin berhembus tidak terlalu kencang menerpa wajah Carrie, membelai rambutnya perlahan. Tanpa sadar, ia menikmati suasana ini. Suasana pagi hari yang menyejukkan hati ini, walau harus terperangkap bersama laki-laki yang menurutnya paling menyebalkan di dunia.

Carrie menoleh, memandang sekilas ke arah Sena. Orang itu sedang sibuk memeriksa satu per satu data yang ada di dalam kardus yang tadi ia keluarkan dari ruang perlengkapan, ah tidak.. ruang itu lebih tepat disebut gudang penyimpanan. Jika ia perhatikan dengan seksama, benar-benar hanya ada mereka berdua di tempat itu. Jika ia tidak menjadi anggota BEM untuk sementara waktu dan tidak membantunya, apa ia akan mengerjakan semuanya sendirian?

"Apa tidak ada anggota lain yang membantunya?" Lirihnya.

Saat ia sedang memperhatikan Sena, tanpa disangka laki-laki itu menoleh ke arahnya. "Apa yang kau lakukan? Kenapa diam saja? Cepat kerjakan tugasmu! Semua data ini harus diserahkan nanti siang."

'Lalu, kenapa kau mau mengerjakannya sendiri?' Pikir Carrie.

Pagi ini berlalu dengan sangat cepat bagi Carrie. Setelah selesai membereskan gudang penyimpanan itu rasanya seluruh badannya remuk dan lelah sekali. Ia menjatuhkan tubuhnya bersandar pada pohon rindang di taman belakang kampus, memejamkan matanya sesaat berharap dengan begitu rasa lelahnya bisa berkurang.

Dingin menyentuh pipinya, ia membuka matanya dan menoleh ke sampingnya. Dengan santai Sena duduk di sampingnya sambil menyerahkan sekaleng minuman dingin pada Carrie.

"Kau sudah bekerja keras. Ini hadiah untukmu." Ucap Sena.

"Hal seperti ini kau bilang hadiah? Yang seperti ini saja sih aku bisa membelinya sendiri."

Sena tertawa miris, "Ya, aku tahu. Kau bisa membeli sebanyak apapun yang kau mau karena kau memiliki banyak uang tanpa harus berusaha."

"Apa maksudmu?"

"Tidak, lupakan saja."

"Bagaimana bisa aku melupakannya. Kau menghinaku? Apa karena aku anak orang kaya maka dari itu aku bisa mendapatkan apapun yang aku mau? Itu menggelikan. Tidak semua yang terlihat di film atau drama itu nyata. Sekarang muncul lagi alasan kenapa aku bisa membencimu. Selain menyebalkan, kau juga tidak menghargai orang lain."

Carrie beranjak dari tempatnya dan pergi meninggalkan Sena. Ia sangat kesal pada laki-laki itu. Bagaimana bisa Sena memandangnya sebagai anak manja yang bisa mendapatkan apapun yang ia mau hanya dengan meminta pada orang tuanya saja? Itu tidak masuk akal.

***

Senin, 13 Januari 2014

Missing Into The Raindrops

Previous story:
Behind The Sunsets

***

"Bukankah rasa penasaran itu jika tidak dibuktikan akan membuat kepikiran? Sekarang aku penasaran, kira-kira bagaimana rasa darahmu ya?"

Laki-laki itu berjalan mendekat menghapus jarak antara dirinya dengan gadis di hadapannya. Tubuh gadis itu bergetar hebat, sepertinya dia sangat ketakutan. Tentu saja, siapa yang tidak takut saat mengetahui rahasia dirinya yang merupakan makhluk penghisap darah ini? Kebanyakan dari mereka yang terlanjur mengetahui rahasia dirinya, sudah pasti tidak akan pulang ke rumah dengan selamat.

Dia, penghisap darah itu, Aiden, tidak henti-hentinya memandangi wajah gadis di hadapannya itu. Dia benar-benar penasaran dengan rasa darah gadis itu, aromanya benar-benar membuatnya sulit berpikir jernih. Jika sudah begini, ia tidak akan bisa mengendalikan dirinya sendiri. Aiden menghirup dalam-dalam aroma tubuh gadis itu.

Ia memejamkan matanya, berkonsentrasi pada aroma gadis di dalam penjara tubuhnya itu. Gadis itu benar-benar ketakutan. Apa segitu menakutkannya kah dia?

Beberapa saat kemudian, tubuh gadis itu mendadak jadi sangat tenang, tidak gemetar seperti saat sebelumnya. Aiden semakin penasaran dibuatnya. Diurungkannya niat untuk menghisap darah gadis itu dan kini pandangannya beralih memperhatikan wajah gadis itu. Wajah ketakutan dan putus asa, sama seperti raut wajah gadis yang sebelumnya ia hisap darahnya. Namun raut wajahnya tidak hanya menunjukkan dua ekspresi itu  saja. Terlihat juga bahwa ia sangat lega seakan semua bebannya hilang dalam sekejap.

'Benar. Siapapun kau, makhluk apapun kau ini, hisap saja semua darahku, setelah itu bunuhlah aku. Dengan begitu aku tidak akan menderita lagi, dengan begitu aku tidak merasa tersakiti lebih lama lagi, dengan begitu orang-orang itu akan berhenti dengan sendirinya.'

Aiden mengerutkan dahinya, apa yang didengarnya tadi merupakan hal yang sedang dipikirkan oleh gadis itu. Ia memiliki bakat membaca pikiran manusia, namun ia tidak pernah membaca pikiran mangsanya karena apa yang ada di dalam pikiran mangsanya adalah hanya permohonan untuk hidup lebih lama dan jika mereka hidup, mereka berjanji akan memperbaiki hidup buruk mereka di masa lalu, sayangnya Aiden tidak pernah melepaskan mangsanya begitu saja. Dia tidak pernah melepaskan hewan buruan yang sudah susah payah di dapatnya.

Namun gadis di hadapannya ini malah memilih untuk mati dan sedikitpun tidak memohon untuk hidup? Apa gadis ini sudah gila? Entahlah, yang pasti hal itu cukup untuk membuat seleranya menghilang menghisap darah gadis itu akan tetapi hasrat dalam dirinya untuk merasakan darah gadis itu tidaklah hilang sama sekali, dia hanya akan menundanya untuk sementara waktu.

Aiden tersenyum sambil menatap gadis yang sedang memejamkan matanya itu, "Sayang sekali ya..." katanya sekilas sebelum ia mengecup kening gadis itu seolah memberinya tanda bahwa gadis itu adalah miliknya dan dia akan datang lagi untuk menghisap darahnya.

Gadis itu membuka matanya dan Aiden sudah menghilang bagai debu yang tertiup angin.

***

Thya membuka matanya, makhluk itu menghilang meninggalkan dirinya dan gadis yang terbaring di tanah dengan bekas gigitan di lehernya. Thya segera menghampiri gadis itu, memeriksa keadaannya, mengecek nadinya yang ternyata masih berdenyut walaupun lemah. Gadis itu masih hidup. Dengan sigap ia meraih ponsel yang ia sembunyikan di bagian terdalam tasnya, hanya itu satu-satunya benda berharga yang masih tersisa di dalam tasnya selain uang yang diambil Raina dan ponselnya yang lain yang dijatuhkan ke dalam kolam oleh teman-temannya.

Tanpa menunggu lebih lama lagi, Thya segera menghubungi ambulans untuk menyelamatkan nyawa gadis itu. Setelah menghubungi ambulans, ia kembali berpikir, apa yang harus dikatakannya pada orang lain jika nanti gadis ini dibawa ke rumah sakit oleh ambulans? Orang lain pasti akan menanyai segala macam pertanyaan tidak masuk akal tentang gadis itu. Terlebih lagi, dirinyalah satu-satunya saksi yang ada di tempat kejadian. Atau lebih buruk lagi, orang lain bisa saja menjadikannya tersangka atas kejadian hari ini.

Thya melirik gadis itu sekilas, kemudian dengan berat hati, ia melangkah pergi keluar dari rumah tua itu meninggalkan gadis yang tergeletak tak berdaya di lantai.

"Maafkan aku..." lirihnya, namun tidak terlihat lagi terlalu banyak ekspresi di wajahnya. Ia hanya meninggalkannya begitu saja, berlari di bawah rintikan air hujan yang mulai membasahi tubuhnya.

~To be continue...

Sabtu, 04 Januari 2014

Behind The Sunsets

Thya berjalan dengan langkah gontai. Seragam sekolah yang ia kenakan terlihat sangat kotor, rambutnya berantakan, tubuhnya penuh dengan luka lebam, bahkan sudut bibirnya mengeluarkan darah. Penampilannya terlihat sangat mengenaskan.

Pagi ini teman-teman di sekolahnya menuduhnya merebut pacar Raina, gadis populer di sekolah. Tidak, mereka bukan teman-teman Thya. Mereka hanya orang-orang yang berada di satu kelas yang sama dengan Thya. Dari awal mereka memang selalu melakukan penyiksaan terhadap dirinya dan Rainalah yang selalu menjadi penyebab utama.

Bangku dan meja yang patah, tas yang penuh dengan coretan penghinaan, sampah yang selalu dilemparkan ke arahnya, sampai air yang membasahi tubuh dan seragamnya. Itu sudah menjadi hal-hal yang harus ditanggung oleh Thya saat ia berada di sekolah, di bullying tanpa ada habisnya.

Thya tahu dari awal gadis populer itu tidak menyukainya. Entah apa sebabnya yang pasti gadis itu terlihat sangat membencinya. seolah Raina tidak akan membiarkan Thya hidup dengan tenang. Ingin rasanya Thya keluar dari sekolah itu, tapi sepertinya mustahil.

Sekolah itu adalah sekolah terbaik di Kota. Jarang sekali ia bisa menerima beasiswa full dari sekolah seperti itu. Awalnya Thya ingin melaporkan kejadian yang menimpa dirinya kepada kepala sekolah, tapi Raina selalu mengancam akan membuat Thya jauh lebih tersiksa daripada yang sebelumnya jika ia sampai melaporkannya. Raina mengancam akan membuat Thya tidak bisa mengatakan sepatah katapun jika ia berani melakukannya.

Sudah cukup lama Thya berjalan baru sekarang ia merasakan lelahnya. Ia menghentikan langkahnya di depan sebuah rumah tua yang tidak terawat, mengatur napasnya sejenak sebelum kembali berjalan. Sebenarnya jarak dari sekolah ke rumah Thya tidak terlalu jauh jika menggunakan kendaraan umum, hanya saja Raina dan teman-temannya mengambil semua uangnya hingga tidak ada lagi yang tersisa. Dengan berjalan kaki ia harus memutar arah dan berjalan dua kali lipat dari jarak yang biasanya ia tempuh.

Tubuhnya sangat sakit, dadanya sesak, dan pandangannya mulai tidak jelas. Ia baru saja dihajar habis-habisan oleh orang-orang dan gadis angkuh yang memimpin mereka.

"Kyaaa!!!"

Thya membuka matanya lebar-lebar, menajamkan telinganya agar bisa mengira dari mana suara itu berasal. Ia menoleh ke arah rumah tua yang ia lewati, suara jeritan gadis itu berasal dari sana. Dengan sisa tenaga yang ia punya, ia melangkah masuk ke dalam rumah itu.

Hari yang sudah semakin gelap membuatnya sulit melihat jalan di dalam rumah itu tanpa penerangan. Samar-samar ia mendengar suara desahan menyakitkan dari gadis yang tadi berteriak. Gadis itu pasti dalam bahaya!

Thya mengintip dari balik pintu sebuah kamar yang ada di rumah itu. Walau ia sangat lelah, tapi ia masih bisa melihat dengan jelas apa yang sedang terjadi di balik pintu itu.

Di bawah terpaan sinar bulan, seorang laki-laki berpakaian serba hitam menancapkan taringnya menembus kulit leher jenjang milik sang gadis. Darah segar menetes dari leher gadis saat laki-laki itu terlarut dalam kegiatannya.

Thya membalikkan tubuhnya, jantungnya berdetak sangat cepat, keringat mulai membasahi tubuhnya. Benarkah apa yang dilihatnya ini? Thya kembali memposisikan tubuhnya untuk melihat keadaan gadis itu, juga untuk meyakinkan dirinya sendiri dengan apa yang baru saja terjadi di hadapannya. Gadis itu tergeletak di lantai, tapi ia tidak melihat laki-laki itu di dekatnya. Kemana dia pergi?

"Mencariku?"

Thya membalikkan tubuhnya. Laki-laki itu berdiri di hadapannya sekarang dengan seringaian yang menyeramkan. Ia semakin sulit bernapas ketika laki-laki itu melangkah mendekatinya, mempersempit jarak di antara mereka. Jantungnya berdetak semakin cepat, tubuhnya terasa semakin lemas, kepalanya pusing, dan pandangannya semakin terlihat samar-samar.

"Bukankah rasa penasaran itu jika tidak dibuktikan akan membuat kepikiran? Sekarang aku penasaran, kira-kira bagaimana rasa darahmu ya?"

~To be continue...