Maybe we are at the bottom of the current position. But that doesn't mean we should be the same as the others because we can make difference. Make it a worthwhile difference so other people happy because our existence..

Selasa, 04 Maret 2014

Opera

Previous Story:
Missing Into Raindrops

***

"Bukankah rasa penasaran itu jika tidak dibuktikan akan membuat kepikiran? Sekarang aku penasaran, kira-kira bagaimana rasa darahmu ya?"

Thya membuka matanya. Ucapan yang keluar dari mulut laki-laki itu terus terngiang di telinganya, memenuhi kepalanya, bahkan sampai terbawa ke dalam mimpinya. Thya melirik ke arah meja yang ada di sisi tempat tidurnya, memandangi jam yang berada di atas meja tersebut.

"Jam empat pagi," lirihnya.

Ia memandang sekelilingnya, mengamati ruangan tempat ia terbangun dari mimpi yang mengganggu tidurnya. Tempat tidur dengan ukuran queen size dilapisi seprai putih dimana ia sedang berbaring berada di tengah ruangan yang bisa dibilang sangat besar untuk ditempati oleh satu orang. Di sudut ruangan, rak-rak buku berisi berbagai jenis buku berjajar rapi menghadap tempat tidurnya.

Di bawah remangnya cahaya bulan, meja belajarnya tertata rapi menghadap ke jendela yang ternyata belum sempat ia tutup. Ah~ bahkan jendelanya pun lupa ia kunci. Selelah itukah dirinya sampai tidak menyadari hal kecil di sekitarnya?

Thya beranjak dari tempat tidurnya, berjalan menyusuri kamarnya, menutup jendela kemudian melangkah lagi hingga tiba di pintu kamarnya. Ia keluar dari kamar itu dan berjalan ke arah dapur.

Dapur yang Thya tuju bernuansa serba cokelat dihiasi lampu-lampu berwarna putih dan jingga. Tidak terlalu istimewa, tapi Thya menyukai tempat itu. Ia mengambil segelas air dan kembali ke kamarnya. Pelayan-pelayan yang ada di rumahnya pasti sedang terlelap, Thya melangkah dengan hati-hati agar tidak menimbulkan banyak suara berisik dan membangunkan mereka.

Hujan mulai turun membasahi bumi, petir pun mulai bergemuruh di langit, bahkan sesekali kilat menyambar bagaikan kilauan lampu kamera yang biasa ia gunakan untuk mengabadikan kenangan-kenangan berharga dalam hidupnya.

Thya terdiam, kenangan berharga? Ia tersenyum miris. Semua kenangan yang ia miliki semakin memudar seiring dengan berjalannya waktu. Banyak hal yang tidak ingin ia ingat lagi. Entah itu kenangan sedih ataupun kenangan bahagia.

"Bodoh, tidak seharusnya aku mengingat hal itu," gumamnya.

Ia berjalan kembali ke kamarnya, membuka pintunya perlahan. Tatapannya langsung tertuju pada jendela dan tirai yang melambai terhembus angin ke arahnya. Bukankah tadi jendelanya sudah ia tutup?

Pandangannya beralih menuju tempat tidurnya. Kilat dan petir saling kejar-kejaran menyambar bumi. Di bawah kilatan cahaya dan derasnya suara hujan di luar sana, Thya terpaku di tempatnya. Memandang seseorang yang kini tengah duduk di tempat tidur miliknya sambil memandang ke arahnya.

"Selamat malam, apakah aku mengganggu waktumu yang berharga?" Tanyanya yang tersenyum menampakkan taringnya yang tajam.

^^To be continue...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar