Dingin, langit malam terselimuti awan tidak memperkenankan bintang
menyampaikan cahayanya ke bumi yang dingin, tapi kau tetap berdiri di
sana. Di tengah kegelapan, menghibur anak-anak dengan pakaian terbaik
mereka. Lusuh, kotor, bahkan jahitan-jahitan tak beraturan senantiasa
menghiasi pakaian mereka. Hanya itu yang terbaik yang bisa mereka
kenakan.
Kau dengan senyuman tulus memandang anak-anak itu,
menyanyikan lagu-lagu untuk mereka dengan gitar yang selalu kau bawa di
punggungmu kemana pun kau pergi.
Aku ingin sekali berada di
antara anak-anak itu, menyaksikan pertunjukanmu secara langsung,
mendengar suaramu yang merdu. Namun, aq hanya bisa melihatmu dari balik
jendela bening dan jeruji besi yang tak bisa kulalui.
Lalu, kau melihatku.
Melihatku yang sedang memperhatikanmu bersama anak-anak itu dari balik jendela.
Kau
menghampiriku, namun orang-orang itu menahanmu agar tidak mendekat. Aku
berpaling, tak kuasa melihat dirimu. Terlalu lemah untuk mengubah
kenyataan bahwa aku tidak akan bisa melihat dunia dan selamanya akan terkurung di tempat ini
walau sesungguhnya tempat ini adalah tempat terbaik untukku.
"Nona tidak boleh bertemu siapapun sampai dia sembuh," ujar orang-orang itu.
Aku berbalik melihatmu lagi dan hanya bisa merasa kecewa saat kau berbalik pergi menjauh dariku.
Kupejamkan mataku, hilang sudah kesempatanku untuk melihat indahnya dunia lewat dirimu.
Namun
kegaduhan terjadi. Kau berlari sekuat tenaga dan berhasil melewati
orang-orang itu. Kemudian kau melompat melewati batas yang selama ini
tidak pernah sanggup kulalui. Kau menemukanku di balik jendela ini.