Maybe we are at the bottom of the current position. But that doesn't mean we should be the same as the others because we can make difference. Make it a worthwhile difference so other people happy because our existence..

Minggu, 27 April 2014

When I Saw You At That Time (2)

Previous Story:: Prolog


Bab 1 : First Sight


Gadis itu memasuki apartemennya  dengan langkah yang terburu-buru. Napasnya terengah-engah dan jantungnya berdetak sangat cepat hingga sulit untuk menstabilkannya kembali. Dia menutup pintu kamarnya dengan keras, menguncinya agar tidak ada seorang pun yang bisa masuk kekamarnya.

Setelah masuk ke dalam kamarnya, gadis itu masih enggan beranjak dari balik pintunya. Kejadian itu membuatnya sangat terkejut dan tidak bisa berpikiran jernih. Dia mulai mengatur napasnya hingga mulai kembali normal, memejamkan matanya untuk menenangkan pikirannya, mengatur detak jantungnya yang masih tidak karuan, kemudian dia menghembuskan napasnya.

“Tenang Kaoru, ini pasti tidak seperti yang kau pikirkan.” Katanya sendiri meyakinkan hatinya.

Kaoru membaringkan tubuhnya di ranjangnya yang nyaman, dalam hati ia menyesal, mengapa tadi ia menolak ajakan sahabat satu apartemennya itu untuk pergi ke pesta yang diadakan manajer mereka, tapi mau bagaimana lagi, ia benar-benar lupa dengan acara itu. Besok pagi ia yakin, manajernya, Leo akan datang ke apartemennya dan menanyakan ketidakhadirannya di pesta tersebut.

Kaoru menahan napasnya, ia masih tidak yakin dengan apa yang dilakukan laki-laki itu, apakah dia benar orang yang ditunggunya selama ini? Tapi mengapa sifatnya sangat berbeda saat bertemu dengan Kaoru sebelumnya? Oh ayolah, ia tidak bodoh. Ia yakin laki-laki itu tidak terlalu mengingat kejadian beberapa minggu lalu di Coffe Shop itu. Namun yang membuatnya tidak habis pikir adalah kata-kata lelaki itu pada dirinya sewaktu mereka bertemu tadi. Sangat berbeda dengan ekspresi sebelumnya saat menghadapi gadis yang menamparnya itu. Laki-laki itu seakan terlihat senang saat melihat kehadiran Kaoru di sana. Ia tersenyum dan berjalan menghampirinya. Kemudian dengan satu gerakan cepat menarik tangan Kaoru dan mengatakan sesuatu di telinganya yang membuat gadis itu tidak bisa berhenti memikirkannya.

Tanpa berpikir panjang, ia segera menepis lengan lelaki itu dan berlari tanpa menoleh ke arahnya lagi. Pikirannya benar-benar kacau, laki-laki itu dalam sekejap menjadi orang yang paling dihindari oleh Kaoru. Walaupun ia pernah menunggu beberapa jam hanya untuk bertemu dengannya, namun kali ini ia tidak ingin bertemu dengan laki-laki itu lagi.

Gadis itu menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya, ia masih belum bisa berpikir jernih hingga saat ini. Diliriknya jam yang menggantung di atas meja belajarnya, sudah hampir tengah malam tapi sahabatnya, Aozora belum kembali ke apartemen.

Ia memeriksa saku mantelnya, mencari ponsel yang ia simpan disana, tapi ponsel itu tidak ada disana. Padahal ia yakin sekali telah menyimpannya dengan baik di dalam sakunya saat perjalanan pulang tadi, tapi kenapa tiba-tiba menghilang?

“Jangan-jangan terjatuh saat aku berlari tadi? Ah~ kenapa begini?!” Ujarnya kesal.

^^

Laki-laki itu menatap ponsel putih yang ada di genggamannya.

“Ah~ aku ketahuan.” Ucapnya sambil tersenyum memandangi ponsel itu, kemudian ia menyimpan ponsel itu di sakunya dan berjalan meninggalkan Coffee Shop tempatnya sering menghabiskan waktu di waktu luangnya.

Ponsel yang ia letakkan di sakunya itu berdering, ada satu pesan masuk. Ia segera membacanya.

“Kaoru, hari ini aku menginap di apartemen kak Leo, kau jangan tunggu aku dan tidur duluan saja ya! Good night!” Pesan itu dikirim oleh seseorang bernama Aozora.

Laki-laki itu tersenyum senang, ia kembali meletakkan ponsel itu di sakunya.

“Jadi namanya Kaoru. Nama yang cantik.”

^^

Tok, tok...

Kaoru tersadar dari tidurnya, seorang mengetuk pintunya dengan cukup keras hingga hampir membuatnya sakit kepala. Dengan keadaan yang masih setengah sadar, ia melangkah dan membukakan pintunya.

“Astaga! Ini masih jam enam pagi! Siapa yang bertamu pagi-pagi begin...ni...?” Matanya membulat penuh saat mengetahui siapa yang berdiri di depan pintu kamarnya dengan senyum ramah di wajahnya.

Tubuhnya kembali menegang, otaknya kembali memutar kejadian semalam secara otomatis. Laki-laki itu, laki-laki yang semalam bertemu dengannya di jalan. Jantungnya berdetak dengan cepat, tapi ia tidak boleh kelihatan gugup di depan orang itu.

“A...Ada keperluan apa?” Tanyanya sambil mengalihkan pandangannya dari laki-laki itu.

Laki-laki itu masih terus tersenyum memandangi Kaoru, kemudian dia mengulurkan tangannya, memberikan ponsel putih yang selama beberapa jam terus berada di sakunya.

“Aku ingin mengembalikan ini. Ponsel ini milikmu kan? Pasti terjatuh karena kau tidak hati-hati. Tak kusangka ternyata kita bertetangga. Apartemenku juga berada di lantai ini.”

Lagi-lagi Kaoru membulatkan matanya. Kebetulan macam apa ini? Laki-laki ini tinggal di sebelah apartemennya! Astaga!! Dengan sedikit ragu, ia mengambil ponselnya dari tangan laki-laki itu. “Terima kasih,” ucapnya tidak ingin terlihat kasar.

“Namaku Keane, senang bertemu denganmu Kaoru.” Ucapnya kemudian pergi meninggalkan gadis yang masih berdiri di ambang pintu itu dengan tatapan tidak percaya.

“Darimana dia tahu namaku? Aku harus menghindar darinya, orang itu berbahaya” Lirihnya.

^^

Keane berjalan memasuki apartemennya dengan wajah yang berseri.

“Gadis yang menarik.” Gumamnya.

“Kenapa kau bicara sendiri, Key? Apa acara kemarin sukses?” tanya seorang laki-laki yang baru saja keluar dari kamar mandi.

“Acaranya berlangsung lancar. Besok aku akan ada latihan lagi di studio dengan beberapa pendatang baru.”

“Baguslah, besok aku akan berada di studio musik untuk merampungkan lagu baru kita. Oiya, bagaimana dengan tawaran konser bulan depan itu? Kau tidak keberatan kan jika aku menerimanya untuk grup kita?” Laki-laki itu, Sean, melangkah menuju meja makan dan menenggak orange juice yang sudah tersedia di atas meja.

“Tidak, aku tidak akan keberatan. Ambil saja tawaran itu, kurasa itu akan bagus untuk karir grup kita ke depannya.”

“Bagaimana dengan gadis menyusahkan itu? Kau sudah mengurusnya?” Tanya Sean lagi.

“Ya, aku sudah mengurusnya.” Jawab Keane sambil merebahkan dirinya di sofa dan menyalakan televisi.

“Oiya, apa kau kenal dengan tetangga kita?” Tanyanya lagi sambil mengutak atik remote tv mencari acara yang menarik.

“Kurasa ada dua orang gadis yang tinggal di sana, hanya itu yang kutahu. Mengapa tiba-tiba kau menanyakan hal itu?”

“Tidak, hanya penasaran.”

“Sejak kapan kau penasaran dengan tetangga kita itu? Aku pernah beberapa kali bertemu mereka, mereka mengenakan seragam High School. Mereka pasti anak orang kaya, kalau tidak, mereka tidak akan bisa tinggan di apartemen sebelah. Oiya, kau sudah siap untuk pertunjukkan kita minggu depan? Ray sudah mendapatkan bintang tamu untuk pertunjukkan itu. Katanya mereka pendatang baru di dunia hiburan dan menurutnya, penampilan mereka cukup bagus.”

“Iya, aku akan berlatih vocal lagi hari ini. Hari ini benar-benar membosankan.” Ujar Keane sambil mematikan tv di hadapannya dan berbaring di sofa putih itu. Pikirannya melayang membawanya ke hadapan gadis itu. Kejadian semalam. Dia benar-benar senang bertemu dengan gadis itu. Ada sesuatu yang pada diri gadis itu yang membuatnya tidak pernah bisa berhenti memikirkannya. Padahal baru dua kali ia bertemu secara  langsung dengannya, aneh sekali ia bisa menjadi seperti ini.

^^

When I Saw You At That Time

Prolog


Hilir mudik kendaraan berlalu begitu saja. Siluet-siluet hitam pun hanya meninggalkan jejak samar di jalanan beraspal, kemudian hilang tak berbekas. Seorang gadis menatap layar di depannya dengan seksama, sesekali ia menyesap sedikit demi sedikit kopi yang ia pesan. Tidak ada kegiatan khusus yang ia lakukan selain duduk di salah satu bangku Coffee Shop yang ia datangi sambil mengutak-atik laptop di hadapannya.

Gadis itu menyesuaikan letak kacamatanya, lalu ia menghela napas dan melirik jam tangannya. Tanpa terasa sudah hampir dua jam ia berada di Coffee Shop itu, hanya duduk dan mengamati laptopnya. Pandangannya beralih ke arah pintu masuk, tidak ada yang berubah. Sampai beberapa saat yang lalu, tidak ada yang melewati pintu itu. Semuanya tetap sama.

Sebenarnya bukan tanpa alasan ia duduk di sana selama hampir dua jam. Ia hanya sedang menunggu seseorang. Seseorang yang ia yakini akan datang ke tempat itu. Ia pernah bertemu orang itu sebelumnya, kejadiannya sudah berlalu cukup lama, tapi masih segar di ingatan gadis itu bagaimana senyuman orang yang dinantinya itu.

Kenyataannya, ia tidak tahu kapan orang itu akan datang. Menunggu tanpa kepastian seperti itu, anehnya ia tidak membenci hal itu.

Gadis itu melirik keluar jendela, ternyata hari sudah mulai gelap, matahari perlahan-lahan mulai terbenam. Sudah cukup baginya untuk menunggu di tempat itu, ia pun memutuskan untuk pulang dan lagi-lagi harus merelakan harapannya pupus untuk bertemu dengan orang itu hari ini.

Dengan membawa tas hitam berisi laptop kesayangannya. Ia melangkah keluar dari Coffee Shop itu. Langkahnya terhenti sesaat setelah ia keluar dari tempat itu. Ia memandang langit sejenak, awan kemerahan yang hampir memudar menandakan senja akan segera berlalu. Ternyata sudah selama itu ia menunggu. Dengan berakhirnya hari ini, berarti sudah seminggu ia harus mengubur harapan bisa bertemu dengan orang itu.

Pada akhirnya, gadis itu memutuskan untuk berjalan pulang ke apartemennya. Letaknya tidak jauh dari Coffee Shop itu, sehingga ia tidak perlu repot menaiki bus untuk tiba di apartemennya.

Jalan setapak yang ia lalui cukup sepi dan tidak banyak orang yang berlalu lalang melewatinya, namun gadis tidak khawatir sama sekali. Ia terus berjalan dengan tenang sambil memeriksa ponsel yang sedari tadi tidak disentuhnya.  Dua pesan masuk dan lima panggilan tidak terjawab dari teman satu apartemen sekaligus sahabat yang mengajaknya datang ke pesta yang diadakan oleh manajer mereka.

Lagi-lagi ia menghela napas. Ia bahkan lupa kalau manajernya mengadakan pesta . Apakah di pikirannya hanya ada orang itu sehingga ia bisa melupakan segalanya?

Gadis itu mengetik beberapa kata untuk membalas pesan yang diterimanya, kemudian memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku. Hanya tinggal beberapa blok lagi sampai ia tiba di apartemen.

“Mengapa kau tega melakukan hal ini padaku?!”

“Kau sudah tahu bagaimana akhirnya. Kau sudah tahu, aku tidak bisa bekerja sama dengan seorang perempuan, tapi kau tetap memaksa. Seharusnya dari awal kau tidak usah mendekatiku dan menjauh dariku.”

Gadis itu menghentikan langkahnya dan tanpa sadar malah bersembunyi di balik pohon. Seharusnya ia bisa mengabaikan saja dua orang yang sedang beradu argument itu dan berlalu begitu melewati mereka. Tapi kenapa begini? Mengapa ia malah bersembunyi?

“Bodoh! Untuk apa aku bersembunyi?” Rutuknya dengan suara pelan, khawatir kedua orang itu mendengar dan mengetahui keberadaannya.

Akhirnya ia memutuskan keluar dari tempat persembunyian dan melanjutkan perjalanannya, tetapi lagi-lagi langkahnya terhenti saat melihat gadis itu menampar wajah tampan laki-laki di depannya.

“Brengsek! Selama ini aku salah menilaimu! Ternyata apa yang semua orang bilang tentangmu itu benar. Kau itu memang bajingan!!” Seru gadis itu sambil berlalu begitu saja.

Laki-laki itu hanya terdiam di tempatnya sambil menghela napas. Sesaat kemudian, ia sadar bahwa seseorang sedang memperhatikannya. Ia pun menoleh ke arah orang yang sedang mengamatinya itu dan melihat seorang gadis sedang berdiri tidak jauh dari tempatnya.

Gadis itu tertegun melihat laki-laki yang berdiri menghadap ke arahnya. Orang itu memandangnya, namun bukan itu yang membuatnya sangat terkejut sampai tidak bisa menggerakkan kakinya. Melainkan karena laki-laki itu adalah orang yang selama ini ditunggunya.

 

-Prolog-End-

Rabu, 23 April 2014

My world (Bokutachi no unmei Novel)


Shiori’s side
Aku terdiam di tepi jalan raya itu. Siluet lalu lalang orang yang melintas di sekitarku seakan berlalu begitu saja. Aku mulai melangkahkan kakiku perlahan melewati keramaian itu. Raut wajah ceria dan bahagia terukir jelas di wajah mereka. Aku hanya bisa berjalan melewatinya, sampai akhirnya aku tiba di sebuah tempat yang tidak akan pernah bisa aku jangkau sesulit apapun aku berusaha.
Aku menatap kerumunan orang yang ada di dalam tempat itu dari jendela. Ah~andaikan saja aku tahu seperti apa rasanya. Gitar, piano, biola, semua alunan itu pasti akan terdengar sangat indah di telingaku.
Aku memejamkan mataku, membuka mulutku namun akhirnya mengatupkannya kembali.  Sunyi, sepi. Aku takut dengan kegelapan, aku takut sendirian, tanpa suara, tanpa cahaya. Tanpa ada seorangpun yang bisa memanggil namaku, tanpa ada seorangpun yang mengulurkan tangannya padaku. Bulir menyedihkan itu menetes membasahi pipiku, rasanya sangat dingin. Aku hanya bisa menangis tanpa suara.
‘Apa artinya aku hidup?’
Kubuka mataku perlahan, menghapus sisa-sisa bulir dingin itu dari pipiku. Masih sunyi,masih terasa dingin, masih membuat hatiku sesak.
Aku berbalik meninggalkan tempat itu, kembali berjalan menuju tempat dimana seharusnya aku berada. Tempat dimana aku bisa tersenyum dengan bangga. Tempat dimana warna-warni dunia menungguku.
“SRETTT…”
Goresan warna-warni itu terlihat indah di mataku. Tanpa sadar aku tidak bisa berhenti menorehkan kuas berwarna-warni itu di atas kanvas berwarna putih bersih  di hadapanku. Aku menatap langit dan awan yang berarak bebas di angkasa. Aku tersenyum.
Matahari, langit, daun-daun yang berguguran di tanah, semua itu terlihat indah di mataku. Merasuk ke dalam jiwaku, memenuhi relung hatiku yang terdalam. Berbagai warna memenuhi lukisanku Aku bahagia.
Namun tiba-tiba saja seseorang mengejutkanku, aku segera berdiri dari tempatku hingga tanpa sengaja menabrak kanvas di hadapanku hingga terjatuh. Laki-laki itu yang menyentuh pundakku, reaksinya terlihat sama terkejutnya denganku. Aku memandangnya dan menjaga jarak darinya.
Laki-laki itu mengerutkan keningnya, ia kemudian tersenyum ramah sambil menyerahkan kertas gambar yang ada di tangannya.
Kulihat kertas yang ada di tangannya dengan seksama. Perlahan kuulurkan tanganku untuk mengambil kertas itu dari tangannya. Aku tersenyum lega. Meski hanya selembar kertas gambar berwarna putih namun itu adalah hartaku yang paling berharga. Aku memeluknya di dadaku. Tidak ingin benda ini sampai hilang lagi dariku.
Laki-laki itu mengulurkan tangan kanannya. Aku memandangi tangan itu, kemudian menatap wajahnya. Ia masih menunjukkan senyum hangat itu di wajahnya.
‘Aku suka gambarmu.’
Itu yang dikatakannya. Dia menyukai gambarku. Aku menyambut uluran tangan itu dan menggenggamnya erat.
Oh, kenapa tidak terpikirkan olehku sejak awal!
Aku mengambil pensil dan menggambar sesuatu di atas kertas itu. Setelah selesai menggambar, aku memperlihatkannya pada laki-laki itu. Ia memicingkan matanya.
Gambar seorang gadis sedang tersenyum sambil membungkukkan badan. Itu gambar diriku yang mengucapkan terima kasih kepadanya.
Laki-laki itu menggerakkan bibirnya. Aku menatap laki-laki itu dan melihat ekspresi wajahnya.
‘Kamu berterima kasih kepadaku?’
Aku menganggukkan kepala sambil tersenyum kecil.
Laki-laki itu tertegun seperti baru menyadari sesuatu yang luput dari penglihatannya. Ternyata ia baru menyadari kalau aku tidak bisa mendengarnya dan tidak bisa membalas perkataannya.
Laki-laki itu menggerakkan bibirnya lagi. Aku mengamatinya dengan seksama.
‘Apa kamu tahu tentang musik?’
Aku tertegun. Mengingat aku yang tidak bisa mendengarkan alunan apapun membuatku lagi-lagi merasa sesak. Namun walau aku tidak bisa mendengarkan suara musik, masih banyak keindahan di dunia ini yang bisa aku nikmati dan aku tuangkan dalam lukisanku.
Aku tersenyum menjawab pertanyaannya, menggambar lagi di atas kertas itu. Memenuhi seisi kertas itu dengan gambar-gambar not balok yang tidak beraturan. Itu artinya aku sama sekali tidak tahu soal musik.
Laki-laki itu mengembangkan senyum yang sempat hilang dari wajahnya. Ia terlihat sangat yakin dengan keadaan diriku.
‘Jadi, inikah musik yang kamu kenal di duniamu?’
Aku mengangguk dengan penuh keyakinan. Walau tidak ada suara yang dapat kudengar, walau tidak ada kata yang dapat kuucapkan, namun aku bahagia dengan dunia penuh warna yang aku miliki.

Shota’s side
Sebuah kertas melayang dan jatuh di hadapanku, aku mengedarkan pandangan ke sekelilingku, mencari tahu darimana kertas itu berasal. Seorang gadis dengan tenang melukis di tepi kolam air mancur di tengah taman itu. Aku memandangi gadis itu dengan seksama. Cantik.
Aku mengambil kertas yang ada di hadapanku itu, melihat nama yang tertera di suduk bawah kertas gambar itu. Shiori. Nama yang cantik sama seperti orangnya.
Aku melangkah mendekatinya,  berniat mengembalikan kertas itu padanya. Dia tidak menyadari kehadiranku karena terlalu menghayati apa yang sedang ia kerjakan. Berbagai warna memenuhi lukisannya, seperti menunjukkan perasaan hati  yang begitu gembira.
“Shiori!” Aku memanggil nama gadis itu. Namun, ia tidak menoleh dan tetap sibuk dengan kegiatannya.
“Shiori! Shiori!” Sekali lagi aku memanggilnya. Lagi-lagi tak ada jawaban.
Akhirnya aku memberanikan diri menyentuh pundaknya, “Shiori,” aku memanggilnya lagi.
Ia langsung berdiri dan tanpa sengaja menabrak kanvas di depannya hingga terjatuh. Aku terkejut melihatnya, tidak menyangka reaksinya sama denganku. Ia langsung memandangku dengan penuh waspada dan segera menjaga jarak dariku.
Aku mengerutkan keningku. Tak berapa lama hal itu berlangsung, aku tersenyum ramah dan menyerahkan kertas gambar yang ada di tanganku.
“Ini milikmu, kan?”
Shiori terlihat berpikir sejenak. Wajahnya yang sempat ketakutan tiba-tiba saja berubah cerah. Perlahan-lahan, ia mengambil kertas gambar itu dari tanganku. Kemudian memeluknya di depan dada, seolah itu adalah harta yang paling berharga baginya.
“Namaku Shota, kamu Shiori, kan?” Aku mengulurkan tangan kananku. Mengajaknya untuk berjabat tangan.
Ia tidak langsung menyambut uluran tanganku dan hanya memandanginya selama beberapa detik.
“Aku suka gambarmu,” kataku lagi.
Kali ini akhirnya dia bereaksi. Ia menyambut uluran tanganku lalu menggenggamnya erat. Lantas, seperti teringat sesuatu, Shiori mengambil pensil dan menggambar sesuatu di atas kertas yang di pegangnya.
Apa yang sedang ia lakukan? Tanpa melontarkan pertanyaan itu, aku hanya bisa menunggunya. Kemudian beberapa saat kemudian, ia memperlihatkan gambarnya padaku.
“Eh?” Aku memicingkan mata. Di atas kertas itu, ada gambar seorang gadis sedang tersenyum sambil membungkukkan badan, seperti mengucapkan terima kasih atau rasa syukur.
“Kamu berterima kasih kepadaku?” Tanyaku meyakinkan.
Ia tidak langsung menjawab pertanyaanku, hanya memandangiku untuk beberapa detik.
Aku tertegun. Ada sesuatu yang luput dari penglihatanku. Shiori memang sedang melihatku, namun setelah diperhatikan lebih lama, arah pandangan itu ternyata sama sekali bukan tertuju pada bola mataku, tetapi justru mengarah ke bibirku.
Aku memutuskan untuk meyakinkan diriku lagi atas keadaan Shiori. Maafkan aku jika ini akan menyakitkan hatimu.
“Apa kamu tahu tentang musik?”
Beberapa detik gadis itu memperhatikan gerak bibirku dan setelah mengetahuinya, mendadak ekspresinya berubah menjadi datar. Kumohon maafkan aku, aku hanya ingin memastikan.
Setelah terlihat merenung beberapa saat, Shiori kembali menunjukkan senyum indahnya. Tangan gadis itu pelan-pelan mengambil kertas yang kupegang dan kembali memainkan pensilnya untuk menggambar.
Ia menunjukkan hasil gambarnya padaku. Aku benar-benar terkejut melihat hasil gambarnya kali ini. Shiori baru saja memenuhinya dengan gambar berbagai not balok yang benar-benar tidak beraturan.
“Hmm…” Aku tersenyum. Sudah tidak ada lagi keraguan yang tersisa dalam benakku. Shiori memang tidak sempurna seperti orang normal. Ia adalah tunarungu, dan biasanya seorang tunarungu juga mengalami kesulitan bicara yang sekaligus menyebabkannya menjadi tunawicara.
Kekurangannya itu tidak menjadikan gadis ini putus asa. Shiori telah melewati masa-masa kelamnya dan berhasil menjadi gadis cerdas serta kuat seperti yang ada di hadapanku saat ini.
“Jadi, inikah musik yang kamu kenal diduniamu?”Tanyaku tanpa pernah melepaskan senyum di wajahku.
Ia menatapku dengan penuh keyakinan dan kelembutan, kemudian tanpa sedikitpun keraguan, ia mengangguk mantap.
Aku bisa merasakan kebahagiaannya. Hanya dengan menorehkan tinta di atas kanvas, Shiori bisa bangkit. Mengumumkan bahwa inilah dunia yang telah ia ciptakan dengan kekuatannya. Dunia miliknya sendiri.

Lirik Lagu My World dalam Novel Bokutachi No Unmei
Apakah yang terpenting bagimu?
Setiap orang pasti memiliki hal-hal yang mereka sukai di dunia ini
Lalu, bagaimana dengan aku?
Bagiku… ke mana pun aku berjalan
Dunia hanyalah sebuah kehampaan dan kesunyian
Saat kututup mata, aku bertanya “Apa artinya aku hidup?”
Sayangnya, tidak ada yang bisa memberikanku jawaban
Ya, tidak ada yang bisa, kecuali diriku sendiri
Akhirnya kucoba untuk membuka mata, mencari arti hidupku
Kemudian tiba saatnya
Ketika aku bisa tersenyum dengan bangga
Menemukan duniaku
Dunia yang kusukai
Dunia penuh warna