Maybe we are at the bottom of the current position. But that doesn't mean we should be the same as the others because we can make difference. Make it a worthwhile difference so other people happy because our existence..

Minggu, 27 April 2014

When I Saw You At That Time

Prolog


Hilir mudik kendaraan berlalu begitu saja. Siluet-siluet hitam pun hanya meninggalkan jejak samar di jalanan beraspal, kemudian hilang tak berbekas. Seorang gadis menatap layar di depannya dengan seksama, sesekali ia menyesap sedikit demi sedikit kopi yang ia pesan. Tidak ada kegiatan khusus yang ia lakukan selain duduk di salah satu bangku Coffee Shop yang ia datangi sambil mengutak-atik laptop di hadapannya.

Gadis itu menyesuaikan letak kacamatanya, lalu ia menghela napas dan melirik jam tangannya. Tanpa terasa sudah hampir dua jam ia berada di Coffee Shop itu, hanya duduk dan mengamati laptopnya. Pandangannya beralih ke arah pintu masuk, tidak ada yang berubah. Sampai beberapa saat yang lalu, tidak ada yang melewati pintu itu. Semuanya tetap sama.

Sebenarnya bukan tanpa alasan ia duduk di sana selama hampir dua jam. Ia hanya sedang menunggu seseorang. Seseorang yang ia yakini akan datang ke tempat itu. Ia pernah bertemu orang itu sebelumnya, kejadiannya sudah berlalu cukup lama, tapi masih segar di ingatan gadis itu bagaimana senyuman orang yang dinantinya itu.

Kenyataannya, ia tidak tahu kapan orang itu akan datang. Menunggu tanpa kepastian seperti itu, anehnya ia tidak membenci hal itu.

Gadis itu melirik keluar jendela, ternyata hari sudah mulai gelap, matahari perlahan-lahan mulai terbenam. Sudah cukup baginya untuk menunggu di tempat itu, ia pun memutuskan untuk pulang dan lagi-lagi harus merelakan harapannya pupus untuk bertemu dengan orang itu hari ini.

Dengan membawa tas hitam berisi laptop kesayangannya. Ia melangkah keluar dari Coffee Shop itu. Langkahnya terhenti sesaat setelah ia keluar dari tempat itu. Ia memandang langit sejenak, awan kemerahan yang hampir memudar menandakan senja akan segera berlalu. Ternyata sudah selama itu ia menunggu. Dengan berakhirnya hari ini, berarti sudah seminggu ia harus mengubur harapan bisa bertemu dengan orang itu.

Pada akhirnya, gadis itu memutuskan untuk berjalan pulang ke apartemennya. Letaknya tidak jauh dari Coffee Shop itu, sehingga ia tidak perlu repot menaiki bus untuk tiba di apartemennya.

Jalan setapak yang ia lalui cukup sepi dan tidak banyak orang yang berlalu lalang melewatinya, namun gadis tidak khawatir sama sekali. Ia terus berjalan dengan tenang sambil memeriksa ponsel yang sedari tadi tidak disentuhnya.  Dua pesan masuk dan lima panggilan tidak terjawab dari teman satu apartemen sekaligus sahabat yang mengajaknya datang ke pesta yang diadakan oleh manajer mereka.

Lagi-lagi ia menghela napas. Ia bahkan lupa kalau manajernya mengadakan pesta . Apakah di pikirannya hanya ada orang itu sehingga ia bisa melupakan segalanya?

Gadis itu mengetik beberapa kata untuk membalas pesan yang diterimanya, kemudian memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku. Hanya tinggal beberapa blok lagi sampai ia tiba di apartemen.

“Mengapa kau tega melakukan hal ini padaku?!”

“Kau sudah tahu bagaimana akhirnya. Kau sudah tahu, aku tidak bisa bekerja sama dengan seorang perempuan, tapi kau tetap memaksa. Seharusnya dari awal kau tidak usah mendekatiku dan menjauh dariku.”

Gadis itu menghentikan langkahnya dan tanpa sadar malah bersembunyi di balik pohon. Seharusnya ia bisa mengabaikan saja dua orang yang sedang beradu argument itu dan berlalu begitu melewati mereka. Tapi kenapa begini? Mengapa ia malah bersembunyi?

“Bodoh! Untuk apa aku bersembunyi?” Rutuknya dengan suara pelan, khawatir kedua orang itu mendengar dan mengetahui keberadaannya.

Akhirnya ia memutuskan keluar dari tempat persembunyian dan melanjutkan perjalanannya, tetapi lagi-lagi langkahnya terhenti saat melihat gadis itu menampar wajah tampan laki-laki di depannya.

“Brengsek! Selama ini aku salah menilaimu! Ternyata apa yang semua orang bilang tentangmu itu benar. Kau itu memang bajingan!!” Seru gadis itu sambil berlalu begitu saja.

Laki-laki itu hanya terdiam di tempatnya sambil menghela napas. Sesaat kemudian, ia sadar bahwa seseorang sedang memperhatikannya. Ia pun menoleh ke arah orang yang sedang mengamatinya itu dan melihat seorang gadis sedang berdiri tidak jauh dari tempatnya.

Gadis itu tertegun melihat laki-laki yang berdiri menghadap ke arahnya. Orang itu memandangnya, namun bukan itu yang membuatnya sangat terkejut sampai tidak bisa menggerakkan kakinya. Melainkan karena laki-laki itu adalah orang yang selama ini ditunggunya.

 

-Prolog-End-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar