Hilir mudik kendaraan berlalu begitu
saja. Siluet-siluet hitam pun hanya meninggalkan jejak samar di jalanan
beraspal, kemudian hilang tak berbekas. Seorang gadis menatap layar di depannya
dengan seksama, sesekali ia menyesap sedikit demi sedikit kopi yang ia pesan.
Tidak ada kegiatan khusus yang ia lakukan selain duduk di salah satu bangku
Coffee Shop yang ia datangi sambil mengutak-atik laptop di hadapannya.
Gadis itu menyesuaikan letak
kacamatanya, lalu ia menghela napas dan melirik jam tangannya. Tanpa terasa
sudah hampir dua jam ia berada di Coffee Shop itu, hanya duduk dan mengamati
laptopnya. Pandangannya beralih ke arah pintu masuk, tidak ada yang berubah.
Sampai beberapa saat yang lalu, tidak ada yang melewati pintu itu. Semuanya
tetap sama.
Sebenarnya bukan tanpa alasan ia duduk
di sana selama hampir dua jam. Ia hanya sedang menunggu seseorang. Seseorang
yang ia yakini akan datang ke tempat itu. Ia pernah bertemu orang itu
sebelumnya, kejadiannya sudah berlalu cukup lama, tapi masih segar di ingatan
gadis itu bagaimana senyuman orang yang dinantinya itu.
Kenyataannya, ia tidak tahu kapan orang
itu akan datang. Menunggu tanpa kepastian seperti itu, anehnya ia tidak
membenci hal itu.
Gadis itu melirik keluar jendela,
ternyata hari sudah mulai gelap, matahari perlahan-lahan mulai terbenam. Sudah
cukup baginya untuk menunggu di tempat itu, ia pun memutuskan untuk pulang dan
lagi-lagi harus merelakan harapannya pupus untuk bertemu dengan orang itu hari
ini.
Dengan membawa tas hitam berisi laptop
kesayangannya. Ia melangkah keluar dari Coffee Shop itu. Langkahnya terhenti
sesaat setelah ia keluar dari tempat itu. Ia memandang langit sejenak, awan
kemerahan yang hampir memudar menandakan senja akan segera berlalu. Ternyata
sudah selama itu ia menunggu. Dengan berakhirnya hari ini, berarti sudah
seminggu ia harus mengubur harapan bisa bertemu dengan orang itu.
Pada akhirnya, gadis itu memutuskan
untuk berjalan pulang ke apartemennya. Letaknya tidak jauh dari Coffee Shop itu,
sehingga ia tidak perlu repot menaiki bus untuk tiba di apartemennya.
Jalan setapak yang ia lalui cukup sepi
dan tidak banyak orang yang berlalu lalang melewatinya, namun gadis tidak
khawatir sama sekali. Ia terus berjalan dengan tenang sambil memeriksa ponsel
yang sedari tadi tidak disentuhnya. Dua
pesan masuk dan lima panggilan tidak terjawab dari teman satu apartemen
sekaligus sahabat yang mengajaknya datang ke pesta yang diadakan oleh manajer
mereka.
Lagi-lagi ia menghela napas. Ia bahkan
lupa kalau manajernya mengadakan pesta . Apakah di pikirannya hanya ada orang
itu sehingga ia bisa melupakan segalanya?
Gadis itu mengetik beberapa kata untuk
membalas pesan yang diterimanya, kemudian memasukkan kembali ponselnya ke dalam
saku. Hanya tinggal beberapa blok lagi sampai ia tiba di apartemen.
“Mengapa kau tega melakukan hal ini
padaku?!”
“Kau sudah tahu bagaimana akhirnya. Kau
sudah tahu, aku tidak bisa bekerja sama dengan seorang perempuan, tapi kau
tetap memaksa. Seharusnya dari awal kau tidak usah mendekatiku dan menjauh
dariku.”
Gadis itu menghentikan langkahnya dan
tanpa sadar malah bersembunyi di balik pohon. Seharusnya ia bisa mengabaikan
saja dua orang yang sedang beradu argument itu dan berlalu begitu melewati
mereka. Tapi kenapa begini? Mengapa ia malah bersembunyi?
“Bodoh! Untuk apa aku bersembunyi?”
Rutuknya dengan suara pelan, khawatir kedua orang itu mendengar dan mengetahui
keberadaannya.
Akhirnya ia memutuskan keluar dari
tempat persembunyian dan melanjutkan perjalanannya, tetapi lagi-lagi langkahnya
terhenti saat melihat gadis itu menampar wajah tampan laki-laki di depannya.
“Brengsek! Selama ini aku salah
menilaimu! Ternyata apa yang semua orang bilang tentangmu itu benar. Kau itu
memang bajingan!!” Seru gadis itu sambil berlalu begitu saja.
Laki-laki itu hanya terdiam di
tempatnya sambil menghela napas. Sesaat kemudian, ia sadar bahwa seseorang
sedang memperhatikannya. Ia pun menoleh ke arah orang yang sedang mengamatinya
itu dan melihat seorang gadis sedang berdiri tidak jauh dari tempatnya.
Gadis itu tertegun melihat laki-laki
yang berdiri menghadap ke arahnya. Orang itu memandangnya, namun bukan itu yang
membuatnya sangat terkejut sampai tidak bisa menggerakkan kakinya. Melainkan
karena laki-laki itu adalah orang yang selama ini ditunggunya.
-Prolog-End-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar