Maybe we are at the bottom of the current position. But that doesn't mean we should be the same as the others because we can make difference. Make it a worthwhile difference so other people happy because our existence..

Minggu, 27 April 2014

When I Saw You At That Time (2)

Previous Story:: Prolog


Bab 1 : First Sight


Gadis itu memasuki apartemennya  dengan langkah yang terburu-buru. Napasnya terengah-engah dan jantungnya berdetak sangat cepat hingga sulit untuk menstabilkannya kembali. Dia menutup pintu kamarnya dengan keras, menguncinya agar tidak ada seorang pun yang bisa masuk kekamarnya.

Setelah masuk ke dalam kamarnya, gadis itu masih enggan beranjak dari balik pintunya. Kejadian itu membuatnya sangat terkejut dan tidak bisa berpikiran jernih. Dia mulai mengatur napasnya hingga mulai kembali normal, memejamkan matanya untuk menenangkan pikirannya, mengatur detak jantungnya yang masih tidak karuan, kemudian dia menghembuskan napasnya.

“Tenang Kaoru, ini pasti tidak seperti yang kau pikirkan.” Katanya sendiri meyakinkan hatinya.

Kaoru membaringkan tubuhnya di ranjangnya yang nyaman, dalam hati ia menyesal, mengapa tadi ia menolak ajakan sahabat satu apartemennya itu untuk pergi ke pesta yang diadakan manajer mereka, tapi mau bagaimana lagi, ia benar-benar lupa dengan acara itu. Besok pagi ia yakin, manajernya, Leo akan datang ke apartemennya dan menanyakan ketidakhadirannya di pesta tersebut.

Kaoru menahan napasnya, ia masih tidak yakin dengan apa yang dilakukan laki-laki itu, apakah dia benar orang yang ditunggunya selama ini? Tapi mengapa sifatnya sangat berbeda saat bertemu dengan Kaoru sebelumnya? Oh ayolah, ia tidak bodoh. Ia yakin laki-laki itu tidak terlalu mengingat kejadian beberapa minggu lalu di Coffe Shop itu. Namun yang membuatnya tidak habis pikir adalah kata-kata lelaki itu pada dirinya sewaktu mereka bertemu tadi. Sangat berbeda dengan ekspresi sebelumnya saat menghadapi gadis yang menamparnya itu. Laki-laki itu seakan terlihat senang saat melihat kehadiran Kaoru di sana. Ia tersenyum dan berjalan menghampirinya. Kemudian dengan satu gerakan cepat menarik tangan Kaoru dan mengatakan sesuatu di telinganya yang membuat gadis itu tidak bisa berhenti memikirkannya.

Tanpa berpikir panjang, ia segera menepis lengan lelaki itu dan berlari tanpa menoleh ke arahnya lagi. Pikirannya benar-benar kacau, laki-laki itu dalam sekejap menjadi orang yang paling dihindari oleh Kaoru. Walaupun ia pernah menunggu beberapa jam hanya untuk bertemu dengannya, namun kali ini ia tidak ingin bertemu dengan laki-laki itu lagi.

Gadis itu menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya, ia masih belum bisa berpikir jernih hingga saat ini. Diliriknya jam yang menggantung di atas meja belajarnya, sudah hampir tengah malam tapi sahabatnya, Aozora belum kembali ke apartemen.

Ia memeriksa saku mantelnya, mencari ponsel yang ia simpan disana, tapi ponsel itu tidak ada disana. Padahal ia yakin sekali telah menyimpannya dengan baik di dalam sakunya saat perjalanan pulang tadi, tapi kenapa tiba-tiba menghilang?

“Jangan-jangan terjatuh saat aku berlari tadi? Ah~ kenapa begini?!” Ujarnya kesal.

^^

Laki-laki itu menatap ponsel putih yang ada di genggamannya.

“Ah~ aku ketahuan.” Ucapnya sambil tersenyum memandangi ponsel itu, kemudian ia menyimpan ponsel itu di sakunya dan berjalan meninggalkan Coffee Shop tempatnya sering menghabiskan waktu di waktu luangnya.

Ponsel yang ia letakkan di sakunya itu berdering, ada satu pesan masuk. Ia segera membacanya.

“Kaoru, hari ini aku menginap di apartemen kak Leo, kau jangan tunggu aku dan tidur duluan saja ya! Good night!” Pesan itu dikirim oleh seseorang bernama Aozora.

Laki-laki itu tersenyum senang, ia kembali meletakkan ponsel itu di sakunya.

“Jadi namanya Kaoru. Nama yang cantik.”

^^

Tok, tok...

Kaoru tersadar dari tidurnya, seorang mengetuk pintunya dengan cukup keras hingga hampir membuatnya sakit kepala. Dengan keadaan yang masih setengah sadar, ia melangkah dan membukakan pintunya.

“Astaga! Ini masih jam enam pagi! Siapa yang bertamu pagi-pagi begin...ni...?” Matanya membulat penuh saat mengetahui siapa yang berdiri di depan pintu kamarnya dengan senyum ramah di wajahnya.

Tubuhnya kembali menegang, otaknya kembali memutar kejadian semalam secara otomatis. Laki-laki itu, laki-laki yang semalam bertemu dengannya di jalan. Jantungnya berdetak dengan cepat, tapi ia tidak boleh kelihatan gugup di depan orang itu.

“A...Ada keperluan apa?” Tanyanya sambil mengalihkan pandangannya dari laki-laki itu.

Laki-laki itu masih terus tersenyum memandangi Kaoru, kemudian dia mengulurkan tangannya, memberikan ponsel putih yang selama beberapa jam terus berada di sakunya.

“Aku ingin mengembalikan ini. Ponsel ini milikmu kan? Pasti terjatuh karena kau tidak hati-hati. Tak kusangka ternyata kita bertetangga. Apartemenku juga berada di lantai ini.”

Lagi-lagi Kaoru membulatkan matanya. Kebetulan macam apa ini? Laki-laki ini tinggal di sebelah apartemennya! Astaga!! Dengan sedikit ragu, ia mengambil ponselnya dari tangan laki-laki itu. “Terima kasih,” ucapnya tidak ingin terlihat kasar.

“Namaku Keane, senang bertemu denganmu Kaoru.” Ucapnya kemudian pergi meninggalkan gadis yang masih berdiri di ambang pintu itu dengan tatapan tidak percaya.

“Darimana dia tahu namaku? Aku harus menghindar darinya, orang itu berbahaya” Lirihnya.

^^

Keane berjalan memasuki apartemennya dengan wajah yang berseri.

“Gadis yang menarik.” Gumamnya.

“Kenapa kau bicara sendiri, Key? Apa acara kemarin sukses?” tanya seorang laki-laki yang baru saja keluar dari kamar mandi.

“Acaranya berlangsung lancar. Besok aku akan ada latihan lagi di studio dengan beberapa pendatang baru.”

“Baguslah, besok aku akan berada di studio musik untuk merampungkan lagu baru kita. Oiya, bagaimana dengan tawaran konser bulan depan itu? Kau tidak keberatan kan jika aku menerimanya untuk grup kita?” Laki-laki itu, Sean, melangkah menuju meja makan dan menenggak orange juice yang sudah tersedia di atas meja.

“Tidak, aku tidak akan keberatan. Ambil saja tawaran itu, kurasa itu akan bagus untuk karir grup kita ke depannya.”

“Bagaimana dengan gadis menyusahkan itu? Kau sudah mengurusnya?” Tanya Sean lagi.

“Ya, aku sudah mengurusnya.” Jawab Keane sambil merebahkan dirinya di sofa dan menyalakan televisi.

“Oiya, apa kau kenal dengan tetangga kita?” Tanyanya lagi sambil mengutak atik remote tv mencari acara yang menarik.

“Kurasa ada dua orang gadis yang tinggal di sana, hanya itu yang kutahu. Mengapa tiba-tiba kau menanyakan hal itu?”

“Tidak, hanya penasaran.”

“Sejak kapan kau penasaran dengan tetangga kita itu? Aku pernah beberapa kali bertemu mereka, mereka mengenakan seragam High School. Mereka pasti anak orang kaya, kalau tidak, mereka tidak akan bisa tinggan di apartemen sebelah. Oiya, kau sudah siap untuk pertunjukkan kita minggu depan? Ray sudah mendapatkan bintang tamu untuk pertunjukkan itu. Katanya mereka pendatang baru di dunia hiburan dan menurutnya, penampilan mereka cukup bagus.”

“Iya, aku akan berlatih vocal lagi hari ini. Hari ini benar-benar membosankan.” Ujar Keane sambil mematikan tv di hadapannya dan berbaring di sofa putih itu. Pikirannya melayang membawanya ke hadapan gadis itu. Kejadian semalam. Dia benar-benar senang bertemu dengan gadis itu. Ada sesuatu yang pada diri gadis itu yang membuatnya tidak pernah bisa berhenti memikirkannya. Padahal baru dua kali ia bertemu secara  langsung dengannya, aneh sekali ia bisa menjadi seperti ini.

^^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar