Bab 1 : First Sight
Gadis itu memasuki apartemennya dengan langkah yang terburu-buru. Napasnya
terengah-engah dan jantungnya berdetak sangat cepat hingga sulit untuk
menstabilkannya kembali. Dia menutup pintu kamarnya dengan keras, menguncinya
agar tidak ada seorang pun yang bisa masuk kekamarnya.
Setelah masuk ke dalam kamarnya, gadis
itu masih enggan beranjak dari balik pintunya. Kejadian itu membuatnya sangat
terkejut dan tidak bisa berpikiran jernih. Dia mulai mengatur napasnya hingga
mulai kembali normal, memejamkan matanya untuk menenangkan pikirannya, mengatur
detak jantungnya yang masih tidak karuan, kemudian dia menghembuskan napasnya.
“Tenang Kaoru, ini pasti tidak seperti
yang kau pikirkan.” Katanya sendiri meyakinkan hatinya.
Kaoru membaringkan tubuhnya di
ranjangnya yang nyaman, dalam hati ia menyesal, mengapa tadi ia menolak ajakan
sahabat satu apartemennya itu untuk pergi ke pesta yang diadakan manajer
mereka, tapi mau bagaimana lagi, ia benar-benar lupa dengan acara itu. Besok
pagi ia yakin, manajernya, Leo akan datang ke apartemennya dan menanyakan
ketidakhadirannya di pesta tersebut.
Kaoru menahan napasnya, ia masih tidak
yakin dengan apa yang dilakukan laki-laki itu, apakah dia benar orang yang
ditunggunya selama ini? Tapi mengapa sifatnya sangat berbeda saat bertemu
dengan Kaoru sebelumnya? Oh ayolah, ia tidak bodoh. Ia yakin laki-laki itu
tidak terlalu mengingat kejadian beberapa minggu lalu di Coffe Shop itu. Namun
yang membuatnya tidak habis pikir adalah kata-kata lelaki itu pada dirinya
sewaktu mereka bertemu tadi. Sangat berbeda dengan ekspresi sebelumnya saat
menghadapi gadis yang menamparnya itu. Laki-laki itu seakan terlihat senang
saat melihat kehadiran Kaoru di sana. Ia tersenyum dan berjalan menghampirinya.
Kemudian dengan satu gerakan cepat menarik tangan Kaoru dan mengatakan sesuatu
di telinganya yang membuat gadis itu tidak bisa berhenti memikirkannya.
Tanpa berpikir panjang, ia segera
menepis lengan lelaki itu dan berlari tanpa menoleh ke arahnya lagi. Pikirannya
benar-benar kacau, laki-laki itu dalam sekejap menjadi orang yang paling
dihindari oleh Kaoru. Walaupun ia pernah menunggu beberapa jam hanya untuk
bertemu dengannya, namun kali ini ia tidak ingin bertemu dengan laki-laki itu
lagi.
Gadis itu menarik selimut dan menutupi
seluruh tubuhnya, ia masih belum bisa berpikir jernih hingga saat ini.
Diliriknya jam yang menggantung di atas meja belajarnya, sudah hampir tengah
malam tapi sahabatnya, Aozora belum kembali ke apartemen.
Ia memeriksa saku mantelnya, mencari
ponsel yang ia simpan disana, tapi ponsel itu tidak ada disana. Padahal ia
yakin sekali telah menyimpannya dengan baik di dalam sakunya saat perjalanan
pulang tadi, tapi kenapa tiba-tiba menghilang?
“Jangan-jangan terjatuh saat aku
berlari tadi? Ah~ kenapa begini?!” Ujarnya kesal.
^^
Laki-laki itu menatap ponsel putih yang
ada di genggamannya.
“Ah~ aku ketahuan.” Ucapnya sambil tersenyum
memandangi ponsel itu, kemudian ia menyimpan ponsel itu di sakunya dan berjalan
meninggalkan Coffee Shop tempatnya sering menghabiskan waktu di waktu luangnya.
Ponsel yang ia letakkan di sakunya itu
berdering, ada satu pesan masuk. Ia segera membacanya.
“Kaoru, hari ini aku menginap di apartemen
kak Leo, kau jangan tunggu aku dan tidur duluan saja ya! Good night!” Pesan itu
dikirim oleh seseorang bernama Aozora.
Laki-laki itu tersenyum senang, ia
kembali meletakkan ponsel itu di sakunya.
“Jadi namanya Kaoru. Nama yang cantik.”
^^
Tok, tok...
Kaoru tersadar dari tidurnya, seorang
mengetuk pintunya dengan cukup keras hingga hampir membuatnya sakit kepala.
Dengan keadaan yang masih setengah sadar, ia melangkah dan membukakan pintunya.
“Astaga! Ini masih jam enam pagi! Siapa
yang bertamu pagi-pagi begin...ni...?” Matanya membulat penuh saat mengetahui
siapa yang berdiri di depan pintu kamarnya dengan senyum ramah di wajahnya.
Tubuhnya kembali menegang, otaknya
kembali memutar kejadian semalam secara otomatis. Laki-laki itu, laki-laki yang
semalam bertemu dengannya di jalan. Jantungnya berdetak dengan cepat, tapi ia
tidak boleh kelihatan gugup di depan orang itu.
“A...Ada keperluan apa?” Tanyanya
sambil mengalihkan pandangannya dari laki-laki itu.
Laki-laki itu masih terus tersenyum
memandangi Kaoru, kemudian dia mengulurkan tangannya, memberikan ponsel putih
yang selama beberapa jam terus berada di sakunya.
“Aku ingin mengembalikan ini. Ponsel
ini milikmu kan? Pasti terjatuh karena kau tidak hati-hati. Tak kusangka
ternyata kita bertetangga. Apartemenku juga berada di lantai ini.”
Lagi-lagi Kaoru membulatkan matanya.
Kebetulan macam apa ini? Laki-laki ini tinggal di sebelah apartemennya!
Astaga!! Dengan sedikit ragu, ia mengambil ponselnya dari tangan laki-laki itu.
“Terima kasih,” ucapnya tidak ingin terlihat kasar.
“Namaku Keane, senang bertemu denganmu
Kaoru.” Ucapnya kemudian pergi meninggalkan gadis yang masih berdiri di ambang
pintu itu dengan tatapan tidak percaya.
“Darimana dia tahu namaku? Aku harus
menghindar darinya, orang itu berbahaya” Lirihnya.
^^
Keane berjalan memasuki apartemennya
dengan wajah yang berseri.
“Gadis yang menarik.” Gumamnya.
“Kenapa kau bicara sendiri, Key? Apa
acara kemarin sukses?” tanya seorang laki-laki yang baru saja keluar dari kamar
mandi.
“Acaranya berlangsung lancar. Besok aku
akan ada latihan lagi di studio dengan beberapa pendatang baru.”
“Baguslah, besok aku akan berada di
studio musik untuk merampungkan lagu baru kita. Oiya, bagaimana dengan tawaran
konser bulan depan itu? Kau tidak keberatan kan jika aku menerimanya untuk grup
kita?” Laki-laki itu, Sean, melangkah menuju meja makan dan menenggak orange
juice yang sudah tersedia di atas meja.
“Tidak, aku tidak akan keberatan. Ambil
saja tawaran itu, kurasa itu akan bagus untuk karir grup kita ke depannya.”
“Bagaimana dengan gadis menyusahkan
itu? Kau sudah mengurusnya?” Tanya Sean lagi.
“Ya, aku sudah mengurusnya.” Jawab
Keane sambil merebahkan dirinya di sofa dan menyalakan televisi.
“Oiya, apa kau kenal dengan tetangga
kita?” Tanyanya lagi sambil mengutak atik remote tv mencari acara yang menarik.
“Kurasa ada dua orang gadis yang
tinggal di sana, hanya itu yang kutahu. Mengapa tiba-tiba kau menanyakan hal
itu?”
“Tidak, hanya penasaran.”
“Sejak kapan kau penasaran dengan
tetangga kita itu? Aku pernah beberapa kali bertemu mereka, mereka mengenakan
seragam High School. Mereka pasti anak orang kaya, kalau tidak, mereka tidak
akan bisa tinggan di apartemen sebelah. Oiya, kau sudah siap untuk pertunjukkan
kita minggu depan? Ray sudah mendapatkan bintang tamu untuk pertunjukkan itu.
Katanya mereka pendatang baru di dunia hiburan dan menurutnya, penampilan
mereka cukup bagus.”
“Iya, aku akan berlatih vocal lagi hari
ini. Hari ini benar-benar membosankan.” Ujar Keane sambil mematikan tv di
hadapannya dan berbaring di sofa putih itu. Pikirannya melayang membawanya ke
hadapan gadis itu. Kejadian semalam. Dia benar-benar senang bertemu dengan
gadis itu. Ada sesuatu yang pada diri gadis itu yang membuatnya tidak pernah
bisa berhenti memikirkannya. Padahal baru dua kali ia bertemu secara langsung dengannya, aneh sekali ia bisa
menjadi seperti ini.
^^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar