Shiori’s
side
Aku terdiam di tepi jalan raya
itu. Siluet lalu lalang orang yang melintas di sekitarku seakan berlalu begitu
saja. Aku mulai melangkahkan kakiku perlahan melewati keramaian itu. Raut wajah
ceria dan bahagia terukir jelas di wajah mereka. Aku hanya bisa berjalan
melewatinya, sampai akhirnya aku tiba di sebuah tempat yang tidak akan pernah
bisa aku jangkau sesulit apapun aku berusaha.
Aku menatap kerumunan orang yang
ada di dalam tempat itu dari jendela. Ah~andaikan saja aku tahu seperti apa
rasanya. Gitar, piano, biola, semua alunan itu pasti akan terdengar sangat
indah di telingaku.
Aku memejamkan mataku, membuka
mulutku namun akhirnya mengatupkannya kembali. Sunyi, sepi. Aku takut dengan kegelapan, aku
takut sendirian, tanpa suara, tanpa cahaya. Tanpa ada seorangpun yang bisa
memanggil namaku, tanpa ada seorangpun yang mengulurkan tangannya padaku. Bulir
menyedihkan itu menetes membasahi pipiku, rasanya sangat dingin. Aku hanya bisa
menangis tanpa suara.
‘Apa artinya aku hidup?’
Kubuka mataku perlahan, menghapus
sisa-sisa bulir dingin itu dari pipiku. Masih sunyi,masih terasa dingin, masih
membuat hatiku sesak.
Aku berbalik meninggalkan tempat
itu, kembali berjalan menuju tempat dimana seharusnya aku berada. Tempat dimana
aku bisa tersenyum dengan bangga. Tempat dimana warna-warni dunia menungguku.
“SRETTT…”
Goresan warna-warni itu terlihat
indah di mataku. Tanpa sadar aku tidak bisa berhenti menorehkan kuas
berwarna-warni itu di atas kanvas berwarna putih bersih di hadapanku. Aku menatap langit dan awan
yang berarak bebas di angkasa. Aku tersenyum.
Matahari, langit, daun-daun yang
berguguran di tanah, semua itu terlihat indah di mataku. Merasuk ke dalam
jiwaku, memenuhi relung hatiku yang terdalam. Berbagai warna memenuhi lukisanku
Aku bahagia.
Namun tiba-tiba saja seseorang
mengejutkanku, aku segera berdiri dari tempatku hingga tanpa sengaja menabrak
kanvas di hadapanku hingga terjatuh. Laki-laki itu yang menyentuh pundakku,
reaksinya terlihat sama terkejutnya denganku. Aku memandangnya dan menjaga
jarak darinya.
Laki-laki itu mengerutkan
keningnya, ia kemudian tersenyum ramah sambil menyerahkan kertas gambar yang
ada di tangannya.
Kulihat kertas yang ada di
tangannya dengan seksama. Perlahan kuulurkan tanganku untuk mengambil kertas
itu dari tangannya. Aku tersenyum lega. Meski hanya selembar kertas gambar
berwarna putih namun itu adalah hartaku yang paling berharga. Aku memeluknya di
dadaku. Tidak ingin benda ini sampai hilang lagi dariku.
Laki-laki itu mengulurkan tangan
kanannya. Aku memandangi tangan itu, kemudian menatap wajahnya. Ia masih
menunjukkan senyum hangat itu di wajahnya.
‘Aku suka gambarmu.’
Itu yang dikatakannya. Dia
menyukai gambarku. Aku menyambut uluran tangan itu dan menggenggamnya erat.
Oh, kenapa tidak terpikirkan
olehku sejak awal!
Aku mengambil pensil dan
menggambar sesuatu di atas kertas itu. Setelah selesai menggambar, aku
memperlihatkannya pada laki-laki itu. Ia memicingkan matanya.
Gambar seorang gadis sedang
tersenyum sambil membungkukkan badan. Itu gambar diriku yang mengucapkan terima
kasih kepadanya.
Laki-laki itu menggerakkan
bibirnya. Aku menatap laki-laki itu dan melihat ekspresi wajahnya.
‘Kamu berterima kasih kepadaku?’
Aku menganggukkan kepala sambil
tersenyum kecil.
Laki-laki itu tertegun seperti
baru menyadari sesuatu yang luput dari penglihatannya. Ternyata ia baru
menyadari kalau aku tidak bisa mendengarnya dan tidak bisa membalas
perkataannya.
Laki-laki itu menggerakkan
bibirnya lagi. Aku mengamatinya dengan seksama.
‘Apa kamu tahu tentang musik?’
Aku tertegun. Mengingat aku yang
tidak bisa mendengarkan alunan apapun membuatku lagi-lagi merasa sesak. Namun
walau aku tidak bisa mendengarkan suara musik, masih banyak keindahan di dunia
ini yang bisa aku nikmati dan aku tuangkan dalam lukisanku.
Aku tersenyum menjawab
pertanyaannya, menggambar lagi di atas kertas itu. Memenuhi seisi kertas itu
dengan gambar-gambar not balok yang tidak beraturan. Itu artinya aku sama
sekali tidak tahu soal musik.
Laki-laki itu mengembangkan senyum
yang sempat hilang dari wajahnya. Ia terlihat sangat yakin dengan keadaan
diriku.
‘Jadi, inikah musik yang kamu
kenal di duniamu?’
Aku mengangguk dengan penuh
keyakinan. Walau tidak ada suara yang dapat kudengar, walau tidak ada kata yang
dapat kuucapkan, namun aku bahagia dengan dunia penuh warna yang aku miliki.
Shota’s side
Sebuah kertas melayang dan jatuh
di hadapanku, aku mengedarkan pandangan ke sekelilingku, mencari tahu darimana
kertas itu berasal. Seorang gadis dengan tenang melukis di tepi kolam air
mancur di tengah taman itu. Aku memandangi gadis itu dengan seksama. Cantik.
Aku mengambil kertas yang ada di
hadapanku itu, melihat nama yang tertera di suduk bawah kertas gambar itu.
Shiori. Nama yang cantik sama seperti orangnya.
Aku melangkah mendekatinya, berniat mengembalikan kertas itu padanya. Dia
tidak menyadari kehadiranku karena terlalu menghayati apa yang sedang ia
kerjakan. Berbagai warna memenuhi lukisannya, seperti menunjukkan perasaan
hati yang begitu gembira.
“Shiori!” Aku memanggil nama gadis
itu. Namun, ia tidak menoleh dan tetap sibuk dengan kegiatannya.
“Shiori! Shiori!” Sekali lagi aku
memanggilnya. Lagi-lagi tak ada jawaban.
Akhirnya aku memberanikan diri
menyentuh pundaknya, “Shiori,” aku memanggilnya lagi.
Ia langsung berdiri dan tanpa
sengaja menabrak kanvas di depannya hingga terjatuh. Aku terkejut melihatnya,
tidak menyangka reaksinya sama denganku. Ia langsung memandangku dengan penuh
waspada dan segera menjaga jarak dariku.
Aku mengerutkan keningku. Tak berapa
lama hal itu berlangsung, aku tersenyum ramah dan menyerahkan kertas gambar
yang ada di tanganku.
“Ini milikmu, kan?”
Shiori terlihat berpikir sejenak.
Wajahnya yang sempat ketakutan tiba-tiba saja berubah cerah. Perlahan-lahan, ia
mengambil kertas gambar itu dari tanganku. Kemudian memeluknya di depan dada,
seolah itu adalah harta yang paling berharga baginya.
“Namaku Shota, kamu Shiori, kan?”
Aku mengulurkan tangan kananku. Mengajaknya untuk berjabat tangan.
Ia tidak langsung menyambut uluran
tanganku dan hanya memandanginya selama beberapa detik.
“Aku suka gambarmu,” kataku lagi.
Kali ini akhirnya dia bereaksi. Ia
menyambut uluran tanganku lalu menggenggamnya erat. Lantas, seperti teringat
sesuatu, Shiori mengambil pensil dan menggambar sesuatu di atas kertas yang di
pegangnya.
Apa yang sedang ia lakukan? Tanpa
melontarkan pertanyaan itu, aku hanya bisa menunggunya. Kemudian beberapa saat
kemudian, ia memperlihatkan gambarnya padaku.
“Eh?” Aku memicingkan mata. Di
atas kertas itu, ada gambar seorang gadis sedang tersenyum sambil membungkukkan
badan, seperti mengucapkan terima kasih atau rasa syukur.
“Kamu berterima kasih kepadaku?”
Tanyaku meyakinkan.
Ia tidak langsung menjawab
pertanyaanku, hanya memandangiku untuk beberapa detik.
Aku tertegun. Ada sesuatu yang
luput dari penglihatanku. Shiori memang sedang melihatku, namun setelah
diperhatikan lebih lama, arah pandangan itu ternyata sama sekali bukan tertuju
pada bola mataku, tetapi justru mengarah ke bibirku.
Aku memutuskan untuk meyakinkan
diriku lagi atas keadaan Shiori. Maafkan aku jika ini akan menyakitkan hatimu.
“Apa kamu tahu tentang musik?”
Beberapa detik gadis itu
memperhatikan gerak bibirku dan setelah mengetahuinya, mendadak ekspresinya
berubah menjadi datar. Kumohon maafkan aku, aku hanya ingin memastikan.
Setelah terlihat merenung beberapa
saat, Shiori kembali menunjukkan senyum indahnya. Tangan gadis itu pelan-pelan
mengambil kertas yang kupegang dan kembali memainkan pensilnya untuk
menggambar.
Ia menunjukkan hasil gambarnya
padaku. Aku benar-benar terkejut melihat hasil gambarnya kali ini. Shiori baru
saja memenuhinya dengan gambar berbagai not balok yang benar-benar tidak
beraturan.
“Hmm…” Aku tersenyum. Sudah tidak
ada lagi keraguan yang tersisa dalam benakku. Shiori memang tidak sempurna
seperti orang normal. Ia adalah tunarungu, dan biasanya seorang tunarungu juga
mengalami kesulitan bicara yang sekaligus menyebabkannya menjadi tunawicara.
Kekurangannya itu tidak menjadikan
gadis ini putus asa. Shiori telah melewati masa-masa kelamnya dan berhasil
menjadi gadis cerdas serta kuat seperti yang ada di hadapanku saat ini.
“Jadi, inikah musik yang kamu
kenal diduniamu?”Tanyaku tanpa pernah melepaskan senyum di wajahku.
Ia menatapku dengan penuh
keyakinan dan kelembutan, kemudian tanpa sedikitpun keraguan, ia mengangguk
mantap.
Aku bisa merasakan kebahagiaannya.
Hanya dengan menorehkan tinta di atas kanvas, Shiori bisa bangkit. Mengumumkan
bahwa inilah dunia yang telah ia ciptakan dengan kekuatannya. Dunia miliknya
sendiri.
Lirik Lagu
My World dalam Novel Bokutachi No Unmei
Apakah yang terpenting
bagimu?
Setiap orang pasti
memiliki hal-hal yang mereka sukai di dunia ini
Lalu, bagaimana dengan
aku?
Bagiku… ke mana pun
aku berjalan
Dunia hanyalah sebuah
kehampaan dan kesunyian
Saat kututup mata, aku
bertanya “Apa artinya aku hidup?”
Sayangnya, tidak ada
yang bisa memberikanku jawaban
Ya, tidak ada yang
bisa, kecuali diriku sendiri
Akhirnya kucoba untuk
membuka mata, mencari arti hidupku
Kemudian tiba saatnya
Ketika aku bisa
tersenyum dengan bangga
Menemukan duniaku
Dunia yang kusukai
Dunia penuh warna
Tidak ada komentar:
Posting Komentar