Maybe we are at the bottom of the current position. But that doesn't mean we should be the same as the others because we can make difference. Make it a worthwhile difference so other people happy because our existence..

Selasa, 14 Januari 2014

Love Again (2)

Previous Story: http://kaochankaochan.blogspot.com/2014/01/love-again-part-1.html


"Kau berubah sampai aku lagi-lagi sulit mengenalmu. Itu bagus, melampaui apa yang aku harapkan darimu." Gumam Sena yang masih enggan beranjak dari bawah pohon rindang itu.

***

Keesokan harinya lagi-lagi Sena meminta Carrie untuk datang pagi dan mengerjakan tugas darinya. Dengan perasaan kesal yang masih belum hilang dalam diri Carrie, ia menghampiri Sena yang berada di ruang kerja BEM. Saat Carrie membuka pintu ruang itu, terlihat Sena yang sedang fokus di depan layar laptopnya mengetik beberapa berkas yang tertumpuk di atas meja kerjanya.

"Oh, kau sudah datang. Cepat masuk dan tutup pintunya. Di luar sangat dingin, mungkin efek karena semalam hujan turun."

Carrie menghela napas dan segera menutup pintunya sesuai dengan apa yang dikatakan Sena. Dia memandang sekeliling ruangan itu. Sebelumnya ia belum pernah masuk dan melihat ruangan itu karena hanya anggota BEM saja yang mendapat akses memasuki semua ruangan di kampus. Carrie melihat beberapa gelas kopi di atas meja, dua gelas sudah kosong sedangkan satunya lagi masih tersisa setengah.

"Wah, sepertinya kau tidak tidur semalaman. Kau habis berpesta ya dengan teman-temanmu sesama anggota BEM?" kata Carrie.

Sena menoleh, menyamakan arah pandang Carrie yang melihat ke arah bekas kopi di atas meja. Kemudian ia tertawa.

"Ah, aku ketahuan ya... Aku memang tidak tidur, dan sekarang aku sangat lelah. Gantikan aku mengetik berkas-berkas ini. Yang sudah kutandai saja, tidak perlu semua kau ketik. Aku ingin tidur sebentar saja."

"Cih, apa-apaan itu? Melimpahkan tugasmu pada orang yang tidak ada sangkut pautnya dengan organisasi yang kau pimpin."

"Hei, jangan membantah. Ingat, selama tiga bulan ini, tugasmu adalah menjadi pembantuku. Kau tidak mau mendapat surat pemberitahuan tentang ujianmu itu kan? Jadi jangan mengeluh, kerjakan sajalah..." Ujar Sena sambil merebahkan dirinya di sofa dan menutupi tubuhnya dengan selimut.

Carrie menghela napas untuk yang kesekian kalinya. Ia mulai sibuk membaca berkas yang ada di depannya sebelum mulai mengetik berkas itu. Tapi tunggu! Bagian yang ditandai oleh Sena hanya bagian yang penting saja. Padahal bagian itu begitu tertutup dengan bagian penjelasan yang tidak penting. Mustahil bisa mengetahuinya hanya dengan sekali lihat saja. Setidaknya harus dibaca dulu dengan seksama.

'Apa Sena membaca berkas sebanyak ini?' Pikir Carrie.

Masih dilanda rasa penasaran, gadis itu kemudian memeriksa hasil ketikan Sena dalam laptopnya. Dua puluh tiga halaman, sudah sebanyak itukah? Kemudian ia menoleh ke arah cangkir-cangkir kopi yang tergeletak di atas meja. 

'Jangan-jangan ia tidak tidur semalaman karena mengerjakan tugas ini?' Carrie memangdang ke arah Sena yang berada di sofa.

"Aku minta maaf..." Ujar Sena masih dengan mata tertutup, membuat Carrie terkejut bahwa Sena memergoki dirinya sedang memandang ke arah laki-laki itu.

"Perkataanku kemarin sungguh tidak sopan, aku minta maaf. Kau mau memaafkan aku?"

Carrie terdiam, entah mengapa melihat Sena yang seperti itu, jantungnya tidak berhenti berdebar. Carrie mengalihkan pandangannya dari Sena menuju laptop di hadapannya. Berpura-pura berkonsentrasi pada tugasnya.

"Sudahlah, tidak usah membicarakan hal itu. Lebih baik kau tidur. Kau pasti sangat lelah."

Sena tersenyum mendengar kata-kata Carrie. Tidak disangka gadis itu akan bersikap seperti itu pada dirinya. Bukankah biasanya Carrie hanya bisa marah jika sudah berhadapan dengannya? Sekarang gadis itu terlihat begitu berbeda.

***

Sudah sebulan lebih mereka berdua bekerja sama dan selama itu pula Sena melihat banyak perubahan dalam diri Carrie. Gadis itu tidak lagi seperti yang pernah ia temui sebelumnya, ia terlihat semakin dewasa sekarang. Carrie pun tidak lagi menganggap Sena menyebalkan. Banyak hal yang ia lihat dalam diri Sena yang ternyata tidak sesuai dengan apa yang ia pikirkan.

"Aahh... lelahnya." Seru Carrie sambil mengangkat kedua tangannya di udara. Mereka sedang membeli perlengkapan untuk persiapan ulang tahun universitas.

"Lebih baik kita beristirahat saja dulu. Aku juga lelah." Lanjut Sena.

Mereka pun duduk di bangku yang di sediakan di tempat mereka berbelanja. Tanpa ada satu pun yang memulai pembicaraan karena keduanya sedang asyik menikmati semilir angin musim semi yang menerpa wajah mereka.

Sena beranjak dari bangkunya kemudian melangkah meninggalkan Carrie yang masih duduk dengan manis di bangku itu. Carrie melihatnya menghampiri kedai ice cream yang tidak jauh dari tempatnya berada. Beberapa saat kemudian, Sena kembali dengan membawa dua cup ice cream di tangannya.

"Untukmu." Ujar Sena sambil menyerahkan satu cup ice cream kepada Carrie.

"Apa ini hadiah untukku karena aku sudah bekerja keras?" Canda Carrie.

"Yah, anggap saja seperti itu." Sena kembali merebahkan dirinya di samping Carrie. Mereka menikmati ice cream itu bersama-sama.

Carrie memperhatikan ice cream itu. Ia baru sadar saat menyuapkan ice cream itu ke mulutnya beberapa suapan. Kemudian, ia melirik ke arah Sena yang masih asyik menikmati ice creamnya. Gadis itu memperhatikan ice cream yang dimakan Sena dengan seksama.

"Bagaimana bisa?" Gumamnya kemudian.

Gerakan Sena terhenti dan menoleh ke arah gadis yang sedang memandangnya itu. "Ada apa?" Tanyanya bingung.

"Bagaimana bisa kau tahu rasa ice cream kesukaanku?" Tanya Carrie tanpa mengalihkan pandangannya dari Sena.

Sena terdiam, terlihat sedikit gugup saat Carrie terus menerus memandanginya seperti itu. "Apa maksudmu? Aku hanya membeli ice cream yang dibuatkan di kedai itu saja."

"Tidak mungkin. Kau tahu, ice cream kesukaanku itu spesial. Ice cream cokelat yang dipadukan dengan sedikit ice cream rasa stroberi, kemudian diberi taburan cokelat dan mochi di atasnya, namun biasanya aku juga meminta satu buah stroberi untuk diletakkan di atasnya. Kau memesannya persis seperti itu. Seperti apa yang aku sukai. Bagaimana kau tahu?"

Sena benar-benar tidak bisa bicara apa-apa. Dia benar-benar tidak bisa berkutik menghadapi Carrie. Dia sudah tidak bisa menutupinya lebih lama lagi.

"Terkadang aku merasa sangat dekat denganmu, kau terlihat sangat mudah dipahami bagiku. Namun terkadang aku merasa kau berada di tempat yang begitu jauh dariku sehingga aku tidak bisa menebak apa yang akan kau lakukan selanjutnya. Sebenarnya siapa kau sebenarnya?" Kata Carrie yang terlihat frustasi menghadapi Sena.

Sena menghela napas. Sudah saatnya dia memberitahu Carrie.

"Kau lihat ice cream yang aku pesan ini?" Tanya Sena.

Dari awal saat Sena memberikan ice cream itu padanya, Carrie memang sudah memperhatikan. Sena memesan ice cream vanilla, namun tanpa tambahan lain karena ice cream itu terlihat sangat putih dan manis. Sena tidak menambahkan topping apapun ke dalam ice creamnya.

"Apa kau tidak ingat?" Tanyanya lagi, kali ini tanpa melepaskan pandangannya dari Carrie.

Carrie mulai mengingat satu per satu kejadian saat ia bersama dengan Sena. Laki-laki itu selalu melindunginya, tidak membiarkannya terluka sedikitpun. Walau kadang tingkahnya menyebalkan, tapi Sena membimbing Carrie untuk menjadi orang yang bertanggung jawab. Kemudian ingatannya beralih pada seorang anak laki-laki yang dulu pernah menasihatinya untuk bertanggung jawab dengan apa yang diperbuatnya.

Waktu itu, Carrie sedang bermain-main di kantor ayahnya. Dia menggunakan laptop ayahnya untuk memainkan permainan, namun tanpa disengaja, Carrie membuka folder kerja ayahnya dan menghapus sebagian data yang ada di dalamnya. Melihat sebagian data perusahaannya yang menghilang, ayah Carrie marah besar dan menyalahkan sekretarisnya yang saat itu ditugaskan memeriksa data tersebut.

Carrie yang melihat ayahnya marah menjadi ketakutan dan merasa sangat bersalah, namun ia tidak berani mengakui perbuatannya karena takut ayahnya akan marah besar padanya. Ia berlari menuju taman dekat rumahnya dan menangis disana.

Pada saat itu, seorang anak laki-laki lewat dan melihat Carrie yang sedang menangis sendirian di taman. Ia menghampiri Carrie dan duduk di sampingnya. Hanya duduk tanpa melakukan apa-apa. Merasa ada seseorang yang sedang mengamatinya, Carrie mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah anak laki-laki itu.

"Kau tidak apa-apa?" Tanya anak laki-laki itu, namun bukannya berhenti menangis, Carrie malah semakin kencang menangis.

Anak laki-laki itu bingung harus melakukan apa. Pada akhirnya ia berjanji akan membelikan Carrie ice cream jika ia berhenti menangis dan menceritakan masalahnya pada anak laki-laki itu. Carrie pun menceritakan kesalahan yang ia perbuat. 

"Minta maaflah pada ayahmu, aku yakin ayahmu akan memaafkanmu. Mungkin dia akan marah, tapi aku yakin dia marah karena ayahmu sangat sayang padamu." Ujar laki-laki itu memberinya nasihat.

"Benarkah itu? Ayah tidak akan marah padaku?"

Anak laki-laki itu mengangguk pasti, kemudian beranjak dari tempatnya menuju kedai ice cream tidak jauh dari tempat mereka berada. Carrie mengikuti langkah anak laki-laki itu. 

"Aku mau ice cream vanilla satu dan berikan anak ini ice cream stroberi." Katanya sambil menunjuk ke arah Carrie.

"Kau tidak tahu apa kesukaanku, jadi jangan seenaknya memutuskan. Paman, aku mau ice cream cokelat ditambah dengan ice cream stroberi tapi sedikit saja. Aku juga minta cokelat dan mochi untuk ditaburkan di atasnya ya. Oiya, jangan lupa buah stroberi untuk hiasannya." Carrie tersenyum pada paman penjual ice cream setelah menyebutkan pesanannya.

***

"Kau tidak ingat?" Tanya Sena yang masih menunggu jawaban dari Carrie.

"Kau... kau anak laki-laki itu?"

Sena tersenyum senang, "Syukurlah kau masih ingat. Aku akan sangat sedih jika kau sampai melupakanku."

Carrie beranjak dari tempatnya, wajahnya terlihat kesal. Ia merasa seperti sedang ditipu oleh Sena. "Mengapa sejak awal kau tidak memberitahuku? Kau ingin mempermainkanku? Kau ingin melihat betapa bodohnya aku saat ini? Kau pikir ini lelucon, hah?"

"Bukan maksudku seperti itu, aku hanya ingin kau mengingatnya sendiri. Lagipula aku tidak punya hak untuk membuatmu mengingatku. Aku juga merasa tersiksa karena tidak bisa memberitahumu, membuatku hampir gila rasanya. Aku ingin bicara denganmu, tapi kau selalu menghindar dariku. Sampai kesempatan itu datang, akhirnya aku bisa bicara denganmu. Sekarang kau boleh marah padaku."

"Dasar bodoh. Mengapa waktu itu kau tidak datang lagi ke taman? Aku menunggumu seharian disana, benar-benar seperti orang bodoh." Ujar Carrie, terlihat air mata mulai menetes membasahi pipinya.

Sena beranjak dari tempatnya dan menghampiri Carrie. Ia mengangkat tangannya dan menghapus air mata yang jatuh di pipi gadis yang disukainya itu.

"Aku sungguh minta maaf. Aku tidak tahu kau akan menungguku disana. Aku berada di sana hanya kebetulan aku sedang menginap di rumah nenekku. Aku juga ingin bertemu denganmu, tapi hari itu adalah hari terakhirku berada di sana." Ungkap Sena.

"Aku tidak tahu dimana rumahmu, bahkan aku tidak tahu siapa namamu. Saat itu aku benar-benar bodoh tidak bertanya siapa namamu." Carrie semakin terisak dan menundukkan kepalanya.

"Saat itu aku juga bodoh, kenapa aku tidak menanyakan nama gadis yang membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama itu? Aku sungguh menyesal."

Carrie mengangkat kepalanya dan memandang wajah Sena.

"Ya, aku menyukaimu. Sejak dulu, dan sampai sekarang perasaan itu tidak berubah. Aku jatuh cinta pada gadis bodoh di hadapanku ini."

Carrie mendengus kesal dikatai bodoh oleh laki-laki di hadapannya itu.

"Kau tidak perlu mengataiku bodoh seperti itu." ucapnya kesal,

"Tapi aku juga bodoh, bisa jatuh cinta padamu."

Carrie tersenyum malu, ia semakin menundukkan kepalanya. Sena melangkah mempersempit jarak di antara mereka, tanpa ragu ia memeluk tubuh Carrie, menyalurkan semua rasa rindunya pada gadis itu.

***

"Bagaimana caranya kau bisa tahu kalau aku adalah gadis kecil yang dulu pernah kau nasihati itu?" Tanya Carrie penasaran sambil mengenggam erat tangan Sena saat mereka dalam perjalanan pulang.

"Aku melihat fotomu dan aku langsung teringat pada gadis kecil itu. Aku tidak pernah melupakan wajahnya." Jawab Sena.

"Benarkah? Lalu dimana kau melihat fotoku?"

"Di berkas penerimaan mahasiswa baru, juga dikamarku."

"Apa? Kau melihat fotoku di kamarmu? Bagaimana bisa? Apa jangan-jangan sebenarnya kau sudah tahu sejak lama kalau itu aku dan membuntutiku ya?"

"Untuk apa aku melakukan hal itu? Kau pikir aku tidak punya urusan yang lebih penting dari itu?"

"Lalu?"

(FLASHBACK)

Carrie kecil berjalan menghampiri ayahnya yang sedang duduk memandangi layar laptop dengan tatapan bingung. Dia mengatakan yang sebenarnya bahwa dialah yang tanpa sengaja menghapus data di dalam laptop ayahnya. Ayahnya terkejut dengan pengakuan Carrie, namun ia bangga pada putrinya yang berani mengakui kesalahannya. Walau begitu Carrie tetap mendapat hukuman dari ayahnya. Carrie harus rajin belajar dan mendapatkan nilai seratus saat tes matematika, pelajaran yang bagi Carrie merupakan pelajaran yang sangat sulit. Carrie menurut kemudian beranjak dari ruangan ayahnya.

Beberapa saat kemudian, seorang laki-laki yang seumuran dengan ayah Carrie memasuki ruangan itu dan menanyakan perihal masalah yang dialami sahabat baiknya itu. Ayah Carrie menceritakan masalahnya bahwa putrinya tidak sengaja menghapus data penting di laptopnya.

"Jadi itu masalahnya? Kalau seperti itu, mudah saja. Bukankah minggu lalu, kau mengirimkan data itu padaku? Aku masih menyimpannya dan jika kau mau, aku bisa mengirimkannya kembali padamu." ucap laki-laki itu.

"Benarkah? Terima kasih, aku akan sangat tertolong dengan bantuanmu. Sebagai gantinya, kudengar kau memili seorang anak laki-laki."

"Iya, umurnya hanya berbeda satu tahun dari putrimu."

"Bagaimana kalau sudah besar nanti, mereka kita jodohkan. Aku akan sangat senang bisa menerimamu sebagai besanku."

"Itu ide yang bagus, kurasa Sena kecilku juga akan sangat senang jika menikah dengan Carrie yang cantik saat mereka sudah besar nanti."

Kedua orang tua itu tertawa bersama dengan rencana perjodohan anak-anak mereka. 

Setelah kembali ke rumah, ayah Sena memperlihatkan foto Carrie kecil kepada Sena. Sena yang terkejut melihat foto itu dengan polosnya menceritaka kejadian antara dirinya dengan Carrie di taman. Ayahnya senang bahwa ternyata Sena sudah mengenal Carrie terlebih dahulu.

"Bagaimana kalau sudah besar nanti kau menikah dengannya?"

"Ayah serius? Ayah tidak bercanda kan? Tapi sepertinya dia tidak menyukaiku ayah, karena aku tidak tahu apa kesukaannya."

"Kalau begitu cari tahu. Dengan begitu, Carrie pasti akan menyukaimu."

Ya, Carrie akan menyukainya jika ia bisa tahu apa yang disukai Carrie. Dia pasti akan membuat Carrie menyukainya karena ia juga menyukai Carrie lebih dari apapun.

5 komentar:

  1. wah ternyata mereka udah kenal dr kecil :D
    kl menurutku sih si sena udah berhasil buat carrie menyukainya kok (y) ;p

    ini novel kan kao-chan ? jd penasaran sm konflik selanjutnya >_<

    btw munculin tokoh lainnya dong kao-chan. masa mereka tugas di BEM berdua terus..wkwk

    BalasHapus
  2. Sebenernya aku mau buat cerpen twoshoot sa-chan..
    Tapi kalau kamu minta sekuelnya, nanti aku buatin deh..
    ≧﹏≦

    BalasHapus
  3. oh aku kira novel..makanya aku heran kok kayaknya ini ceritanya udah selesai sampe disini hhehe. kan waktu itu km bilangnya novel >_< ahaha ok deh :)

    BalasHapus
  4. Yg kyk gni bkin rada gregetan wkt bca. .
    ^^

    BalasHapus
  5. Hehe.. sankyuu ao-chan, sa-chan.. ^^

    BalasHapus